Pembantaian Massal Warga Tionghoa di Batavia 1740
Tragedi Geger Pecinan pada Oktober 1740 menewaskan belasan ribu warga Tionghoa di Batavia akibat kebijakan represif VOC dan eskalasi kekerasan setelah kepanikan memicu perlawanan.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 25 Oktober 2026, 21.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Peristiwa kelam yang dikenal sebagai Geger Pecinan mencatat salah satu episode paling kelam dalam sejarah kolonial Batavia. Pada Oktober 1740, sekitar belasan ribu warga Tionghoa menjadi korban pembantaian massal setelah ketegangan memuncak akibat kebijakan pengusiran dan pengelompokan yang diterapkan oleh Gubernur Jenderal VOC, Adriaan Valckenier. Pada masa itu, populasi warga Tionghoa di Batavia diperkirakan mencapai antara 4.000 hingga 12.000 orang, sebagian besar bermukim di sekitar kawasan Pecinan.
Kebijakan pemindahan warga Tionghoa ke wilayah lain, termasuk Sri Lanka, beredar luas dan menimbulkan kepanikan. Isu bahwa mereka akan dibuang ke laut menjadi pemicu kekhawatiran yang meluas. Dalam kondisi tersebut, sebagian warga Tionghoa memilih mempertahankan diri dengan mempersenjatai diri dan menyerang fasilitas milik VOC, termasuk pabrik gula. Aksi balasan pun segera datang: pasukan VOC dikerahkan untuk menekan perlawanan, yang berujung pada pembantaian tanpa seleksi.
Pada 9 Oktober 1740, pasukan VOC mulai menyisir permukiman warga Tionghoa, baik di dalam maupun di luar tembok kota. Sehari setelahnya, pembantaian besar-besaran dimulai. Mayat-mayat korban ditemukan berserakan di jalanan, gang sempit, hingga kanal-kanal, termasuk di sepanjang Kali Angke. Catatan dari pengamat Eropa, G. Bernhard Schwarzen dalam Reise in Ost-Indien (1751), menggambarkan betapa padatnya tumpukan mayat hingga tidak bisa dilewati tanpa melangkahi korban.
Nama Kali Angke sendiri dikaitkan dengan peristiwa ini, dengan versi yang menyebutkan bahwa kata "Angke" berasal dari bahasa Hokkien, "ang" berarti merah dan "ke" berarti sungai, mengacu pada air yang konon memerah akibat darah korban. Meski ada versi lain yang mengaitkannya dengan tokoh Tubagus Angke, narasi sejarah tetap menekankan peran tragedi ini dalam membentuk kebijakan segregasi terhadap warga Tionghoa di masa depan.
Tragedi ini berlangsung hingga 22 Oktober 1740 dan dikenang sebagai salah satu peristiwa paling brutal dalam sejarah kolonial Indonesia. Dampaknya terasa panjang, dengan diperketatnya kontrol terhadap keberadaan warga Tionghoa, termasuk pembatasan ruang gerak dan pembentukan kawasan khusus. Geger Pecinan tetap menjadi peringatan sejarah tentang konsekuensi kebijakan diskriminatif dan ketegangan sosial yang tak terkendali.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

BMKG Lakukan Modifikasi Cuaca di Jakarta untuk Kurangi Polusi
Operasi modifikasi cuaca dilakukan BMKG di Jakarta 21–25 Oktober 2026 dengan penaburan 4 ton garam, bertujuan menurunkan polusi udara melalui hujan buatan.
25 Oktober 2026

Pengawal Energi Buka Pendaftaran untuk Lulusan Muda
Kementerian ESDM membuka program pengawal energi bagi lulusan S1 dan D4 dengan 108 posisi, menawarkan insentif hingga Rp6,5 juta per bulan dan fasilitas lengkap selama masa penugasan satu tahun.
25 Oktober 2026

Prabowo Bahas Pendidikan Kepemimpinan di Hambalang
Presiden Prabowo Subianto membahas perkembangan program pendidikan dan pelatihan kepemimpinan bersama Gubernur URI di Hambalang, didampingi pejabat kementerian dan BPI.
25 Oktober 2026

Pemerintah Siapkan Rp883 Miliar untuk Diskon Transportasi Nataru
Pemerintah menyiapkan anggaran Rp883,4 miliar untuk memberikan diskon layanan transportasi di empat moda selama periode Natal dan Tahun Baru 2026–2027, menargetkan 16,6 juta penumpang terdampak.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

Kim Jong Un Kunjungi China Lewat Jembatan Baru Yalu
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.29 WITA

Pencabutan Izin Tambang Emas di Papua Tengah Ditetapkan
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.28 WITA

Target PNBP ESDM 2026 Naik Jadi Rp165 Triliun
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.26 WITA

Jasa Marga Jalankan Preservasi Berkala Jalan Tol
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.25 WITA

Rupiah Terus Melemah di Atas Rp18.000/US$
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.24 WITA

BRILink Agen Fillio Dorong Inklusi Keuangan di Dumai
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.22 WITA

Kebijakan Pertanian Dorong Peningkatan Daya Beli Petani Lampung
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.21 WITA

Copshop: Dua Musuh dalam Sel yang Harus Bersatu
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.15 WITA

