1.000 Orang Ditangkap Usai Unjuk Rasa Ricuh di Prancis
Kerusuhan setelah unjuk rasa massal di Prancis menewaskan ratusan orang ditangkap, menyusul aksi penjarahan dan bentrokan dengan polisi di sejumlah kota.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 25 Oktober 2026, 17.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Aksi protes yang awalnya berjalan damai di berbagai kota Prancis berubah menjadi kerusuhan besar, mengakibatkan lebih dari seribu orang ditangkap oleh aparat keamanan. Demonstrasi yang dipicu oleh kekhawatiran terhadap kenaikan biaya hidup dan ketidakpuasan terhadap kebijakan pendidikan, menarik partisipasi hampir setengah juta orang di seluruh wilayah negara. Di Paris, unjuk rasa yang dimulai dengan tuntutan damai berubah menjadi keributan saat sebagian massa mengenakan topeng dan melemparkan benda serta kembang api ke arah petugas kepolisian.
Reaksi polisi pun cepat, dengan penggunaan gas air mata, granat suara, dan semprotan air dari meriam. Dalam situasi kacau, banyak demonstran panik saat gas menyebar, berlarian sambil berteriak, namun sejumlah peserta yang lebih berpengalaman berteriak agar tidak lari, menyeru keberanian dan solidaritas. Pihak berwenang menyatakan bahwa jumlah peserta mencapai 410.000 orang, meskipun serikat pekerja CGT menyebut angka lebih tinggi, yaitu hampir 800.000, termasuk 250.000 di Paris.
Peningkatan pengamanan dengan 70.000 petugas, termasuk helikopter dan kendaraan lapis baja, dilakukan untuk mencegah kejadian serupa seperti kerusakan toko dan penjarahan besar-besaran yang terjadi sebelumnya. Di Marseille, jumlah peserta diperkirakan mencapai 17.000, sementara CGT menyebutnya mencapai 100.000. Di Toulouse, pihak berwenang mencatat 26.500 peserta, sedangkan demonstrasi di kota seperti Lyon, Nice, dan Montpellier dilarang oleh otoritas.
Serikat pekerja mengecam larangan tersebut sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak konstitusional atas kebebasan berpendapat. Di Orléans, sekitar ribuan orang turut dalam aksi damai yang menentang keberadaan sayap kanan ekstrem, menyusul kongres Partai Reli Nasional. Sejumlah fasilitas publik, termasuk Art Basel—pameran seni bergengsi—dibatalkan program akhir pekannya akibat ancaman keamanan, meski tetap dibuka selama satu hari.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Ribu Warga Albania Demo, Tuntut Mundurnya PM Akibat Krisis Hidup dan Korupsi
Ribuan warga Albania menggelar demonstrasi besar di Tirana, menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama menyusul lonjakan biaya hidup dan dugaan korupsi yang meresahkan.
25 Oktober 2026

243 Orang dan 14 Perusahaan Jadi Tersangka Karhutla
Polisi telah menetapkan 243 individu dan 14 korporasi sebagai tersangka kebakaran hutan dan lahan yang melanda berbagai wilayah di Indonesia.
25 Oktober 2026

Penangkapan Jaringan Narkoba di Mesuji Ungkap Ratusan Ekstasi dan Senjata Rakitan
Polres Mesuji menggagalkan peredaran narkoba dengan menyita ratusan pil ekstasi, sabu, senjata api rakitan, dan uang hasil transaksi dari tiga tersangka di tiga lokasi berbeda.
25 Oktober 2026

Wardatina Mawa Pertahankan Proses Hukum, Tolak Damai dengan Inara Rusli
Wardatina Mawa menyatakan tetap menunggu penetapan tersangka dari penyidik Polda Metro Jaya, meski Inara Rusli buka ruang damai, dengan menegaskan kesiapannya mengikuti proses hukum secara transparan dan berkelanjutan.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

Anggota BPK Fathan Subchi Wafat di Usia 56 Tahun
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.59 WITA

Sopir Ojol Korban Tabrakan Mobil BYD Masih Dirawat di RS Fatmawati
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.58 WITA

Santri Klaten Diharapkan Jadi Pilar Pembangunan Indonesia Emas
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.58 WITA

Prabowo Tegaskan Ketahanan Ekonomi Indonesia Hadapi Tekanan MSCI
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.57 WITA

UMKM Binaan Pertamina Dorong Pemberdayaan Sosial dan Pelestarian Budaya
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.57 WITA

Penjualan Hyundai dan Kia di China Meleset di Bawah 10.000 Unit
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.56 WITA

Pemprov Kaltim Dorong Literasi Keuangan untuk Perkuat Ekonomi Rakyat
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.56 WITA

Shin Tae-yong Dorong Sistem Pembinaan Sepak Bola Berkelanjutan
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.56 WITA

