Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Ribu Warga Albania Demo, Tuntut Mundurnya PM Akibat Krisis Hidup dan Korupsi

Ribuan warga Albania menggelar demonstrasi besar di Tirana, menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama menyusul lonjakan biaya hidup dan dugaan korupsi yang meresahkan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 25 Oktober 2026, 17.58 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Ribu Warga Albania Demo, Tuntut Mundurnya PM Akibat Krisis Hidup dan Korupsi📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Puluhan ribu warga Albania turun ke jalan di ibu kota Tirana pada Sabtu (24/10), memprotes kondisi ekonomi yang memburuk serta dugaan praktik korupsi sistemik. Aksi yang dimulai sebagai unjuk rasa damai berubah menjadi bentrokan sengit dengan aparat keamanan, menyusul penggunaan gas air mata, meriam air, dan peluru karet untuk membubarkan massa. Kekerasan terjadi setelah sejumlah demonstran melemparkan batu dan membakar tempat sampah yang kemudian mengarah ke gedung Kementerian Pendidikan, salah satu sasaran utama aksi protes.

Kerusuhan meluas hingga menimbulkan lebih dari 300 korban luka, baik dari kalangan demonstran maupun petugas kepolisian. Sejumlah bangunan pemerintah dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan batu dan api. Kondisi memanas setelah aksi yang sempat mereda beberapa hari kembali bergelora, menarik partisipasi mahasiswa, akademisi, seniman, serta berbagai elemen oposisi yang menyatakan dukungan terhadap gerakan perlawanan terhadap pemerintahan saat ini.

Perdana Menteri Edi Rama, yang memimpin Partai Sosialis, menolak tuntutan pengunduran diri dan menyalahkan pihak asing atas kerusuhan yang terjadi. Ia menyebut adanya intervensi dari Rusia dan Iran dalam menyebarkan narasi provokatif melalui media digital, serta menyatakan bahwa kelompok anti-Uni Eropa turut memanfaatkan momentum untuk memecah belah stabilitas nasional. Sebagai upaya menenangkan situasi, Rama mengajak dialog dengan meletakkan bantal merah di depan kantor pemerintahan sebagai simbol pembukaan komunikasi. Namun, aksi tersebut direspons dengan pembakaran bantal-bantal tersebut oleh demonstran.

Kekerasan dan ketegangan yang terjadi merupakan puncak dari gelombang protes berkelanjutan sejak Mei, yang awalnya muncul sebagai kekecewaan terhadap proyek properti mewah yang dikaitkan dengan keluarga mantan Presiden AS Donald Trump dan menantunya, Jared Kushner. Sejak saat itu, gerakan sosial berkembang menjadi gerakan nasional melawan ketimpangan ekonomi, korupsi, dan dominasi elit politik. Para demonstran, seperti Orgeta Likaj, menegaskan bahwa rakyat sudah lelah dengan pemerintahan yang dianggap otoriter dan tidak peduli terhadap kesejahteraan rakyat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya