Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Menjaga Laut sebagai Dapur Bangsa Melalui Kolaborasi Hingga Hulu Sungai

Program Sungai Lestari diluncurkan untuk mencegah sampah dari sumbernya dan melindungi ekosistem pesisir sebagai fondasi ketahanan pangan nasional.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 15.43 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 137x dibuka
Menjaga Laut sebagai Dapur Bangsa Melalui Kolaborasi Hingga Hulu Sungai📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah bersama mitra strategis meluncurkan Program Sungai Lestari sebagai langkah sistemik dalam menjaga kualitas lingkungan pesisir dan mendukung ketahanan pangan nasional. Aksi ini dilakukan di Bali sebagai bagian dari upaya menyelaraskan pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, khususnya dengan menekan aliran sampah plastik yang berpotensi mencemari laut. Menteri Koordinator Bidang Pangan menegaskan bahwa ekosistem mangrove bukan sekadar penopang ekologi, melainkan penopang ekonomi, keanekaragaman hayati, dan penyerap karbon yang krusial bagi mitigasi iklim.

Pendekatan berbasis hulu menjadi kunci utama dalam program ini, di mana pencegahan pencemaran dimulai dari sumber, bukan hanya sekadar membersihkan pantai. Program yang dilaksanakan di lima wilayah kabupaten/kota ini menggabungkan upaya pengelolaan sampah dengan edukasi masyarakat, perubahan perilaku, dan pembangunan infrastruktur seperti Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Keterlibatan berbagai pihak—pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan komunitas—ditegaskan sebagai syarat utama keberlanjutan.

Pemerintah menilai laut sebagai lumbung pangan masa depan, terutama dengan potensi besar Indonesia sebagai produsen rumput laut terbesar dunia. Upaya hilirisasi, seperti pengolahan rumput laut menjadi pupuk organik, pangan superfood, bioetanol, dan biodiesel, diharapkan meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan nelayan. Selain itu, keberadaan 3,46 juta hektare mangrove dan 660 ribu hektare padang lamun menunjukkan potensi karbon biru yang besar, yang harus dilestarikan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan ketersediaan pangan generasi mendatang.

Dalam kerangka tersebut, pemerintah juga memperkuat ekonomi biru melalui program Kampung Nelayan Merah Putih, yang ditargetkan mencapai 1.269 kampung pada 2026 dan 5.000 kampung pada 2029. Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih diharapkan menjadi pusat perekonomian berkelanjutan dari hulu hingga hilir. Penelitian dan inovasi kelautan, terutama melalui kolaborasi dengan akademisi seperti Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia, juga menjadi fokus untuk mengubah temuan ilmiah menjadi solusi praktis yang dapat diadopsi masyarakat.

Melalui sinergi antara kebijakan, teknologi, dan partisipasi masyarakat, program ini bertujuan menciptakan Bali yang lebih bersih dan asri sebagai contoh pengelolaan lingkungan terintegrasi. Dengan memperkuat ekosistem laut dan memastikan kelangsungan sumber daya pangan, upaya ini menegaskan bahwa masa depan ketahanan pangan Indonesia bukan hanya tergantung pada sawah, tetapi juga pada kesehatan laut yang harus dijaga sejak hulu sungai hingga ke bibir pantai.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya