Minuman Harian Berdampak pada Kesehatan Mental
Studi terhadap lebih dari dua juta orang menunjukkan kopi dikaitkan dengan risiko depresi lebih rendah, sementara minuman manis justru meningkatkan risiko tersebut.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 15.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pemilihan minuman sehari-hari tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga berhubungan erat dengan kondisi psikologis seseorang. Sebuah analisis terhadap 59 penelitian dari 22 negara yang melibatkan lebih dari dua juta partisipan menemukan bahwa konsumsi kopi secara rutin dikaitkan dengan penurunan risiko gejala depresi. Orang yang mengonsumsi kopi lebih sering memiliki kemungkinan mengalami gejala depresi sekitar 13 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang atau tidak minum kopi.
Namun, temuan ini tidak menunjukkan kausalitas langsung, melainkan hubungan observasional. Kafein dalam kopi diyakini berperan sebagai stimulan saraf pusat yang dapat meningkatkan energi, motivasi, dan suasana hati. Selain kafein, senyawa antioksidan dan antiinflamasi dalam kopi juga diduga turut mendukung kesehatan mental, meskipun mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami.
Di sisi lain, minuman yang mengandung gula tinggi—termasuk minuman bersoda, minuman berpemanis buatan, dan minuman energi—terkait dengan peningkatan risiko depresi. Tingginya asupan gula dapat menyebabkan fluktuasi kadar gula darah dan memicu peradangan kronis dalam tubuh, yang secara ilmiah dikaitkan dengan gangguan fungsi otak dan perubahan suasana hati. Ahli gizi menekankan bahwa pola konsumsi minuman perlu diperhatikan secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada satu jenis minuman.
Penting dicatat bahwa kesehatan mental dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tidur, aktivitas fisik, pola makan, kondisi sosial, dan faktor genetik. Minuman hanyalah salah satu elemen dalam gaya hidup yang dapat dimodifikasi. Oleh karena itu, perubahan tidak harus berupa pergantian total ke kopi, melainkan perbaikan keseimbangan konsumsi gula dan kafein dalam konteks gaya hidup yang lebih sehat secara keseluruhan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Stres dan Kebiasaan Makan Manis: Dibalik Pola Respons Tubuh
Stres memengaruhi nafsu makan melalui perubahan hormon, kebiasaan, dan respons otak, yang sering kali memicu keinginan untuk mengonsumsi makanan manis, meski respons ini bervariasi antarindividu.
7 Oktober 2026

Kucing Tak Bisa Rasakan Manis, Tapi Tetap Tertarik pada Makanan Manis
Kucing tidak memiliki kemampuan merasakan rasa manis karena kekurangan gen pengecap, meski sering menunjukkan ketertarikan pada makanan manis seperti es krim atau kue.
7 Oktober 2026

6 Makanan Pendukung Kesehatan Lambung Secara Alami
Lima jenis makanan alami diketahui mendukung fungsi lambung dan pencernaan, termasuk sayuran hijau, alpukat, dan jahe, dengan perlu konsumsi bertahap dan keseimbangan nutrisi.
7 Oktober 2026

Kopi Pesan Trend Jadi Pilar Pemberdayaan Ekonomi Lokal
Pengembangan kopi di Pesan Trend, Bandung, diharapkan tingkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan nilai tambah dan kemandirian ekonomi.
6 Oktober 2026
Berita Lainnya

H. Amir Resmikan Lapangan Voli Baru di Konawe, Buka Turnamen Penuh Kejutan
Rabu, 7 Oktober 2026, 16.38 WITA

Seniman Asal Tonggouna Konawe Sukses Lukis Logo Partai Rakyat Indonesia
Rabu, 7 Oktober 2026, 15.58 WITA

Seniman Menyelesaikan Logo Partai Rakyat Indonesia
Rabu, 7 Oktober 2026, 15.58 WITA

Otak Tetap Sehat Meski Usia Bertambah
Rabu, 7 Oktober 2026, 15.35 WITA

Pilih Paspor 5 atau 10 Tahun? Ini Perbedaan Biaya dan Manfaatnya
Rabu, 7 Oktober 2026, 15.33 WITA

Penjualan Daihatsu Naik 10 Persen di Kuartal III 2026
Rabu, 7 Oktober 2026, 15.31 WITA

As Roda Omoda 5 Copot di Malaysia, Chery Lakukan Recall 600 Unit
Rabu, 7 Oktober 2026, 15.31 WITA

Honda 0 Alpha EV Siap Meluncur di India Akhir Tahun Ini
Rabu, 7 Oktober 2026, 15.31 WITA

