Stres dan Kebiasaan Makan Manis: Dibalik Pola Respons Tubuh
Stres memengaruhi nafsu makan melalui perubahan hormon, kebiasaan, dan respons otak, yang sering kali memicu keinginan untuk mengonsumsi makanan manis, meski respons ini bervariasi antarindividu.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 12.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 ANTARAKendari, ıNarasikita - Ketika tekanan hidup memuncak, banyak orang merasakan dorongan tak terbendung untuk mengonsumsi makanan manis, seperti cokelat, es krim, atau minuman berpemanis. Fenomena ini bukan sekadar kelemahan kontrol diri, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara sistem saraf, hormon, dan pola perilaku. Saat tubuh mengalami stres, produksi kortisol meningkat, yang dapat mengubah cara otak mengatur rasa lapar dan kepuasan, sehingga mendorong preferensi terhadap makanan tinggi gula dan lemak sebagai respons instan terhadap ketegangan emosional.
Otak manusia memiliki sistem penghargaan yang aktif saat mengonsumsi makanan yang mengandung gula, lemak, dan garam. Makanan semacam itu secara alami merangsang pelepasan dopamin, neurotransmiter yang berkaitan dengan kepuasan dan kebahagiaan. Dalam kondisi stres, otak cenderung mencari cara cepat untuk menenangkan diri, dan makanan manis menjadi pengganti emosional yang mudah diakses. Kebiasaan ini pun semakin diperkuat jika seseorang rutin mengonsumsi makanan tersebut sebagai respons terhadap kelelahan atau tekanan kerja.
Namun, tidak semua orang bereaksi sama terhadap stres. Sebuah studi yang melibatkan 62 orang dewasa sehat menunjukkan bahwa peningkatan kortisol akibat stres akut justru dikaitkan dengan penurunan keinginan makan. Ini menunjukkan bahwa respons terhadap stres sangat individu—ada yang merasa lapar, ada pula yang kehilangan nafsu makan. Faktor seperti riwayat makan, pola tidur, dan cara mengelola emosi turut menentukan arah respons tersebut.
Kurang tidur, yang sering menyertai stres, juga memperparah kecenderungan mengonsumsi makanan tinggi kalori. Gangguan pada hormon ghrelin (pemicu lapar) dan leptin (penanda kenyang) akibat kurang istirahat membuat makanan manis dan berkarbohidrat sederhana terasa jauh lebih menarik. Dalam kondisi ini, dorongan untuk ngemil bukan lagi murni karena lapar, melainkan hasil dari ketidakseimbangan biologis dan psikologis yang saling berinteraksi.
WHO dalam pedoman terbaru tahun 2026 menyarankan batas konsumsi gula bebas di bawah 10 persen dari total asupan energi harian—setara dengan sekitar 50 gram atau 12 sendok teh untuk orang yang membutuhkan 2.000 kalori per hari. Pembatasan lebih ketat hingga 5 persen (25 gram) dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan. Oleh karena itu, menghadapi keinginan makan manis saat stres bukan berarti harus menghindar sepenuhnya, melainkan memahami akarnya dan memilih strategi alternatif seperti beristirahat, berjalan, atau berbicara dengan orang terpercaya.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Kucing Tak Bisa Rasakan Manis, Tapi Tetap Tertarik pada Makanan Manis
Kucing tidak memiliki kemampuan merasakan rasa manis karena kekurangan gen pengecap, meski sering menunjukkan ketertarikan pada makanan manis seperti es krim atau kue.
7 Oktober 2026

6 Makanan Pendukung Kesehatan Lambung Secara Alami
Lima jenis makanan alami diketahui mendukung fungsi lambung dan pencernaan, termasuk sayuran hijau, alpukat, dan jahe, dengan perlu konsumsi bertahap dan keseimbangan nutrisi.
7 Oktober 2026

Kopi Pesan Trend Jadi Pilar Pemberdayaan Ekonomi Lokal
Pengembangan kopi di Pesan Trend, Bandung, diharapkan tingkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan nilai tambah dan kemandirian ekonomi.
6 Oktober 2026

Ketagihan Makanan Manis? Ini Penyebab dan Solusinya
Keinginan kuat terhadap makanan manis sering muncul akibat pola makan, kurang tidur, stres, atau kebiasaan, bukan karena kekurangan gula.
6 Oktober 2026
Berita Lainnya

Data Kesehatan Jadi Fondasi Inovasi Obat Berbasis AI
Rabu, 7 Oktober 2026, 12.30 WITA

Bupati Siak Minta Pelunasan Utang DBH Migas Segera Ditegaskan
Rabu, 7 Oktober 2026, 12.30 WITA

Pemerintah Siapkan Lahan Baru untuk Dukung Program E20
Rabu, 7 Oktober 2026, 12.29 WITA

Defisit Perdagangan AS Melonjak di Tengah Kebijakan Tarif Trump
Rabu, 7 Oktober 2026, 12.29 WITA

Emas Antam Naik Jadi Rp2,580 Juta per Gram
Rabu, 7 Oktober 2026, 12.29 WITA

Rupiah Melemah Tipis di Awal Perdagangan Rabu
Rabu, 7 Oktober 2026, 12.29 WITA

Bayan Sesuaikan Jumlah Saham dalam Perjanjian Jual Beli
Rabu, 7 Oktober 2026, 12.28 WITA

Pemerintah Bisa Hemat Rp161 T dengan Transisi ke Truk Listrik
Rabu, 7 Oktober 2026, 12.28 WITA

