Rabu, 7 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Defisit Perdagangan AS Melonjak di Tengah Kebijakan Tarif Trump

Defisit perdagangan Amerika Serikat membengkak menjadi US$105,6 miliar pada Agustus, didorong lonjakan impor dan kegagalan kebijakan tarif impor yang diterapkan masa pemerintahan Donald Trump.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 12.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Defisit Perdagangan AS Melonjak di Tengah Kebijakan Tarif Trump📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Angka defisit perdagangan AS pada bulan Agustus mencapai US$105,6 miliar, melampaui perkiraan pasar dan menjadi yang tertinggi sejak Maret 2025. Laporan dari Kementerian Perdagangan AS menunjukkan lonjakan signifikan dalam impor barang, terutama peralatan dan komponen terkait pengembangan kecerdasan buatan, yang turut memperlebar jurang defisit. Angka ini juga lebih tinggi dari estimasi konsensus Dow Jones sebesar US$102 miliar dan melebihi proyeksi ekonom Reuters.

Peningkatan tersebut terjadi meski pemerintah AS menerapkan kebijakan tarif impor agresif, khususnya dalam kerangka kebijakan "timbal balik" yang digulirkan menjelang masa jabatan Donald Trump. Namun, hasilnya justru menunjukkan kegagalan dalam menekan impor, bahkan mencatat rekor defisit terhadap tiga negara, yakni Meksiko, Vietnam, dan Malaysia. Kenaikan 13,7 persen dari bulan sebelumnya menunjukkan tekanan yang terus menggila pada neraca perdagangan.

Secara kumulatif, defisit perdagangan tahun berjalan mencapai US$138,2 miliar, turun sekitar 20 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, analis menekankan bahwa kenaikan harga dan struktur permintaan domestik membuat defisit tetap menjadi beban bagi pertumbuhan ekonomi. Kenaikan impor, meski mencerminkan permintaan yang tinggi, berpotensi menghambat pertumbuhan PDB kuartal ketiga, karena impor secara umum mengurangi nilai agregat produk domestik bruto.

Para ekonom menilai kebijakan perdagangan yang diterapkan tidak efektif dalam mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri. Kepala Ekonom FWD BONDS, Christopher Rupkey, menyatakan bahwa tingginya biaya tenaga kerja di AS membuat produksi domestik sulit bersaing. Selain itu, pembangunan fasilitas produksi baru tidak mampu mengejar laju permintaan pasar dalam waktu singkat, sehingga kebijakan tarif gagal memperbaiki keseimbangan perdagangan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya