Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Ketagihan Makanan Manis? Ini Penyebab dan Solusinya

Keinginan kuat terhadap makanan manis sering muncul akibat pola makan, kurang tidur, stres, atau kebiasaan, bukan karena kekurangan gula.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 21.19 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Ketagihan Makanan Manis? Ini Penyebab dan Solusinya📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Keinginan mendadak untuk mengonsumsi makanan atau minuman manis kerap terjadi, terutama setelah aktivitas fisik atau saat merasa lelah. Fenomena ini dikenal sebagai sugar cravings, yaitu dorongan kuat yang sulit ditahan terhadap produk berupa gula tambahan. Meskipun sering dikaitkan dengan rasa lapar, kenyataannya keinginan tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor emosional, ritme tidur, dan kebiasaan sehari-hari daripada kebutuhan fisiologis tubuh terhadap gula.

Ketidakstabilan pola makan, seperti melewatkan waktu makan atau mengonsumsi makanan cepat saji, dapat memicu lonjakan gula darah yang kemudian diikuti oleh keinginan kembali mengonsumsi gula. Kurang tidur juga menjadi pemicu utama, karena gangguan pada hormon ghrelin dan leptin berdampak langsung pada rasa lapar dan kenyang. Selain itu, stres dan kebosanan sering kali menjadi alasan seseorang mencari kenyamanan melalui makanan manis, meskipun respons ini berbeda pada setiap individu.

Kebiasaan juga memegang peranan besar dalam membentuk sugar cravings. Misalnya, rutinitas minum kopi dengan gula setiap sore atau membeli minuman manis setelah bekerja dapat menjadi rangsangan otomatis yang sulit dihindari. Ketika pola ini berulang, otak akan mengaitkan situasi tertentu dengan kepuasan rasa manis, sehingga keinginan muncul tanpa disadari.

Untuk mengelola kebiasaan ini, dianjurkan pendekatan bertahap. Mulai dari memperbaiki jadwal makan agar lebih teratur, mengonsumsi makanan kaya serat dan protein, serta mengurangi gula secara perlahan—misalnya, mengurangi satu sendok gula per minuman setiap minggu. Mengganti minuman manis dengan air putih, membaca label produk, dan memilih camilan sehat seperti buah atau kacang juga dapat membantu mengurangi asupan gula.

WHO menyarankan batas maksimal konsumsi gula tambahan sebesar 10 persen dari total asupan kalori harian, atau sekitar 50 gram untuk orang dengan kebutuhan 2.000 kalori. Penurunan lebih lanjut hingga 5 persen—setara 25 gram—dapat memberikan manfaat kesehatan lebih besar. Penting untuk diingat bahwa tidak semua makanan rendah gula otomatis sehat, terutama jika prosesnya tinggi dan mengandung sedikit nutrisi.

Ketagihan terhadap rasa manis bukan tanda penyakit, tetapi perlu diwaspadai jika muncul secara terus-menerus dan mengganggu kualitas pola makan. Solusi terbaik bukan dengan melarang total, melainkan dengan perubahan kecil yang konsisten—seperti tidur lebih teratur, memilih camilan lebih sehat, dan memahami pemicu emosional. Dengan pendekatan realistis, mengurangi gula bisa menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih seimbang dan berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya