Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Biaya Hunian Picu Korban Kebutuhan Pokok Global

Survei global menunjukkan 75% penduduk mengurangi pengeluaran pokok demi menopang biaya tempat tinggal, dengan dampak luas pada kesehatan, keluarga, dan masa depan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 21.23 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 6x dibuka
Biaya Hunian Picu Korban Kebutuhan Pokok Global📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Sebanyak tiga dari empat orang di seluruh dunia mengakui telah memangkas anggaran untuk kebutuhan dasar—seperti makanan, perawatan kesehatan, dan tabungan—dalam satu tahun terakhir demi memenuhi kewajiban tempat tinggal. Temuan ini berdasarkan survei nasional terhadap lebih dari 30 ribu responden di 22 negara, yang mengungkapkan bahwa beban perumahan tak hanya terbatas pada sewa atau cicilan, tetapi juga menciptakan kompromi berat dalam kualitas hidup. Kelompok paling terdampak adalah penghuni tempat tinggal tidak resmi (89%), masyarakat berpenghasilan rendah (85%), serta generasi muda, terutama Gen Z dan Milenial (81%).

Pengorbanan tersebut nyata dalam bentuk pengurangan konsumsi makanan oleh 33% responden, penggunaan dana darurat oleh 32%, dan penundaan perawatan medis oleh 13%. Bahkan, hampir separuh responden (48%) menyatakan satu kejadian tak terduga saja bisa mengancam kelangsungan tempat tinggal mereka. Sebanyak 40% mengakui menerima risiko tinggi dalam hunian karena pilihan yang lebih aman tidak terjangkau, menunjukkan keterbatasan akses terhadap keamanan tempat tinggal yang layak.

Kondisi ini juga memengaruhi rencana hidup jangka panjang. Lebih dari separuh responden (56%) mengatakan biaya tinggal menghambat rencana membentuk keluarga, angka yang naik menjadi 62% di kalangan generasi muda. Hingga 58% orang tua khawatir kondisi hunian membatasi kesempatan anak-anak mereka. Di negara-negara berpendapatan tinggi seperti Kanada dan Amerika Serikat, lebih dari separuh responden yang belum memiliki rumah merasa tidak yakin akan bisa memiliki tempat tinggal sendiri di masa depan.

Ketidakpuasan terhadap kondisi hunian paling tinggi terjadi di negara berpendapatan rendah, seperti Pantai Gading (66%) dan Etiopia (63%), jauh melampaui rata-rata global 35%. Lebih dari satu dari tiga orang (35%) menyebut tempat tinggal sebagai sumber stres utama, angka yang melonjak menjadi 64% di kalangan penghuni informal dan 39% di kalangan generasi muda. Survei juga menunjukkan bahwa penyewa lebih rentan mengalami dampak negatif terhadap kesehatan (28%) dibanding pemilik rumah (19%).

Perubahan iklim turut memperparah krisis perumahan, dengan 30% responden memperkirakan cuaca ekstrem akan membuat hunian mereka semakin tak layak dalam tiga tahun ke depan. Hanya 18% yang merasa rumah mereka cukup terlindungi dari panas, dingin, atau banjir. Dengan data ini, pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil dalam menciptakan sistem perumahan yang menjamin keamanan, kesehatan, dan kesempatan bagi semua lapisan masyarakat menjadi semakin mendesak.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya