Biaya Hunian Picu Korban Kebutuhan Pokok Global
Survei global menunjukkan 75% penduduk mengurangi pengeluaran pokok demi menopang biaya tempat tinggal, dengan dampak luas pada kesehatan, keluarga, dan masa depan.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 21.23 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 6x dibuka
📷 ANTARAKendari, ıNarasikita - Sebanyak tiga dari empat orang di seluruh dunia mengakui telah memangkas anggaran untuk kebutuhan dasar—seperti makanan, perawatan kesehatan, dan tabungan—dalam satu tahun terakhir demi memenuhi kewajiban tempat tinggal. Temuan ini berdasarkan survei nasional terhadap lebih dari 30 ribu responden di 22 negara, yang mengungkapkan bahwa beban perumahan tak hanya terbatas pada sewa atau cicilan, tetapi juga menciptakan kompromi berat dalam kualitas hidup. Kelompok paling terdampak adalah penghuni tempat tinggal tidak resmi (89%), masyarakat berpenghasilan rendah (85%), serta generasi muda, terutama Gen Z dan Milenial (81%).
Pengorbanan tersebut nyata dalam bentuk pengurangan konsumsi makanan oleh 33% responden, penggunaan dana darurat oleh 32%, dan penundaan perawatan medis oleh 13%. Bahkan, hampir separuh responden (48%) menyatakan satu kejadian tak terduga saja bisa mengancam kelangsungan tempat tinggal mereka. Sebanyak 40% mengakui menerima risiko tinggi dalam hunian karena pilihan yang lebih aman tidak terjangkau, menunjukkan keterbatasan akses terhadap keamanan tempat tinggal yang layak.
Kondisi ini juga memengaruhi rencana hidup jangka panjang. Lebih dari separuh responden (56%) mengatakan biaya tinggal menghambat rencana membentuk keluarga, angka yang naik menjadi 62% di kalangan generasi muda. Hingga 58% orang tua khawatir kondisi hunian membatasi kesempatan anak-anak mereka. Di negara-negara berpendapatan tinggi seperti Kanada dan Amerika Serikat, lebih dari separuh responden yang belum memiliki rumah merasa tidak yakin akan bisa memiliki tempat tinggal sendiri di masa depan.
Ketidakpuasan terhadap kondisi hunian paling tinggi terjadi di negara berpendapatan rendah, seperti Pantai Gading (66%) dan Etiopia (63%), jauh melampaui rata-rata global 35%. Lebih dari satu dari tiga orang (35%) menyebut tempat tinggal sebagai sumber stres utama, angka yang melonjak menjadi 64% di kalangan penghuni informal dan 39% di kalangan generasi muda. Survei juga menunjukkan bahwa penyewa lebih rentan mengalami dampak negatif terhadap kesehatan (28%) dibanding pemilik rumah (19%).
Perubahan iklim turut memperparah krisis perumahan, dengan 30% responden memperkirakan cuaca ekstrem akan membuat hunian mereka semakin tak layak dalam tiga tahun ke depan. Hanya 18% yang merasa rumah mereka cukup terlindungi dari panas, dingin, atau banjir. Dengan data ini, pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil dalam menciptakan sistem perumahan yang menjamin keamanan, kesehatan, dan kesempatan bagi semua lapisan masyarakat menjadi semakin mendesak.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

7 Kebiasaan Harian untuk Menjaga Kesehatan Mental
Menjaga kesehatan mental bisa dimulai dari langkah sederhana seperti mengenali pemicu stres, beristirahat teratur, dan mencari bantuan profesional jika diperlukan.
6 Oktober 2026

Purun Lokal Jadi Pundi Ekonomi Perajin
Siswa SMA kelas 12 kembangkan rumput purun menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, melibatkan 126 perajin di 15 desa dengan peningkatan pendapatan hingga 150 persen.
6 Oktober 2026

Pemutihan Pajak Kendaraan Berakhir Oktober 2026 di Tujuh Provinsi
Tujuh provinsi memperpanjang program pemutihan pajak kendaraan hingga 31 Oktober 2026 dengan berbagai insentif untuk wajib pajak.
6 Oktober 2026

<Cara Aman Pasang Aplikasi Tanpa Risiko Malware>
Penggunaan aplikasi di ponsel harus disertai kehati-hatian agar terhindar dari ancaman malware melalui langkah-langkah pencegahan teknis dan perilaku digital yang bijak.
6 Oktober 2026
Berita Lainnya

Elektrifikasi Transportasi dan Rumah Tangga Jadi Lompatan Emisi
Selasa, 6 Oktober 2026, 21.24 WITA

WNA Belarus Dihadapkan ke Pengadilan atas Kasus Narkoba di Bali
Selasa, 6 Oktober 2026, 21.24 WITA

Pelayanan Apostille Pernikahan ke Hungaria Difasilitasi di Babel
Selasa, 6 Oktober 2026, 21.23 WITA

Prabowo Serahkan Perkara Ijazah Gibran ke MK
Selasa, 6 Oktober 2026, 21.23 WITA

Satgas PKH Serahkan Rp13,24 Triliun ke Kas Negara
Selasa, 6 Oktober 2026, 21.23 WITA

Layanan Keimigrasian di MPP Nusantara Diperkuat untuk Dukung IKN
Selasa, 6 Oktober 2026, 21.23 WITA

Kopi Pesan Trend Jadi Pilar Pemberdayaan Ekonomi Lokal
Selasa, 6 Oktober 2026, 21.23 WITA

Penertiban Hutan Selamatkan Rp400 Triliun dari Kerugian Negara
Selasa, 6 Oktober 2026, 21.22 WITA

