Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

MKTR Pertahankan Operasional Meski Karhutla Ancam Kalteng

PT Menthobi Karyatama Raya tetap menjalankan operasional perkebunan sawit di Lamandau, Kalteng, meski wilayah tersebut menjadi episentrum kebakaran lahan terparah di Indonesia.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 16 Oktober 2026, 09.02 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 34x dibuka
MKTR Pertahankan Operasional Meski Karhutla Ancam Kalteng📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Operasional perkebunan kelapa sawit yang dikelola PT Menthobi Karyatama Raya Tbk (MKTR) di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, tetap berjalan normal meskipun sejumlah wilayah di provinsi tersebut dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Perusahaan menegaskan bahwa aktivitas produksi, termasuk pengolahan tandan buah segar (TBS), tidak mengalami gangguan signifikan hingga saat ini. Seluruh kegiatan operasional tetap berjalan sesuai rencana, tanpa adanya penutupan paksa atau pemadaman tak terencana akibat kondisi kebakaran.

Manajemen MKTR menegaskan bahwa target produksi tahun 2026 tetap utuh, tanpa perubahan karena dampak karhutla. Perusahaan juga menyatakan belum mengidentifikasi adanya pengaruh material terhadap kinerja keuangan, termasuk pendapatan, laba bersih, dan nilai aset. Tidak ada proses hukum, sanksi administratif, atau pencabutan izin yang sedang berlangsung terkait kebakaran, baik dari instansi pemerintah maupun lembaga pengawas.

Sebagai respons preventif, MKTR telah membentuk tim khusus penanggulangan karhutla bersinergi dengan pemerintah daerah. Langkah konkret yang dilakukan mencakup pembuatan sekat bakar menggunakan alat berat, pemanfaatan personel dan peralatan pemadam, serta kerja sama intensif dengan BPBD, TNI, Polri, dan masyarakat setempat. Untuk mempercepat respons, perusahaan juga memanfaatkan saluran pelaporan cepat melalui call center dan grup WhatsApp, serta melakukan patroli rutin mendeteksi titik panas.

Dalam konteks lebih luas, Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar di Indonesia, mencatat 513,89 hektare di lahan mineral dan 10,89 hektare di lahan gambut di Taman Nasional Tanjung Puting. Kondisi asap yang tebal membatasi operasional helikopter water bombing hampir sepekan. Meski demikian, pemerintah menyatakan mampu menangani kebakaran melalui pendekatan darat, dengan pengerahan lebih dari 60 ribu personel gabungan dan tingkat keberhasilan pemadaman di area baru terbakar mencapai lebih dari 80% harian.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya