Sabtu, 3 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Olahraga Berat Tak Otomatis Tingkatkan Risiko Kematian

Banyak yang khawatir olahraga berlebihan berbahaya, namun bukti ilmiah menunjukkan aktivitas fisik tetap menurunkan risiko kematian, meski manfaatnya menurun pada intensitas ekstrem.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 3 Oktober 2026, 15.24 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 14x dibuka
Olahraga Berat Tak Otomatis Tingkatkan Risiko Kematian📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Aktivitas fisik secara konsisten dikaitkan dengan penurunan risiko kematian akibat berbagai penyakit, termasuk penyakit jantung dan stroke. Sebuah tinjauan sistematis yang mencakup 85 studi menunjukkan bahwa orang yang aktif secara rutin memiliki risiko kematian dari semua penyebab 20 hingga 40 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak aktif. Manfaat ini terlihat paling signifikan ketika seseorang beralih dari gaya hidup menetap ke aktivitas fisik teratur, dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular mencapai 30 hingga 40 persen.

Temuan tersebut menggambarkan pola berbentuk kurva, di mana manfaat kesehatan meningkat secara signifikan pada tahap awal aktivitas, namun pertumbuhan manfaat menjadi lebih lambat seiring dengan peningkatan durasi dan intensitas. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan manfaat tidak bersifat linear, sehingga mencapai tingkat aktivitas tinggi tidak selalu berarti hasil kesehatan yang jauh lebih baik dibandingkan aktivitas sedang.

Meskipun ada kekhawatiran bahwa olahraga berat secara berkelanjutan bisa berdampak negatif, penelitian terbaru yang menganalisis 14 studi jangka panjang tidak menemukan bukti kuat yang mendukung hubungan langsung antara aktivitas fisik ekstrem dan peningkatan risiko kematian. Beberapa penelitian menunjukkan adanya bentuk U dalam hubungan tersebut, namun kualitas bukti masih terbatas dan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa olahraga intensif secara umum berbahaya. Faktor seperti usia, kondisi kesehatan, dan adaptasi tubuh tetap menjadi penentu utama.

Pedoman kesehatan global menyarankan orang dewasa melakukan 150 hingga 300 menit aktivitas aerobik sedang per minggu, atau 75 hingga 150 menit aktivitas berat, dengan tambahan latihan kekuatan minimal dua kali seminggu. Angka-angka tersebut bukan batas maksimal, melainkan titik awal optimal. Meningkatkan aktivitas di atas angka tersebut tetap memberi manfaat, meski secara marginal. Peningkatan intensitas harus dilakukan secara bertahap dan disertai istirahat yang cukup, nutrisi memadai, serta perhatian terhadap tanda-tanda kelelahan atau stres pada tubuh.

Di Indonesia, data WHO menunjukkan bahwa sekitar 19 persen orang dewasa tidak mencapai tingkat aktivitas fisik yang disarankan, sementara pada remaja usia 10 hingga 19 tahun, angka ini mencapai 50 hingga 58 persen. Ini menunjukkan bahwa tantangan utama bukanlah olahraga berlebihan, melainkan kurangnya aktivitas fisik secara umum. Oleh karena itu, langkah paling efektif untuk masyarakat adalah memulai dari aktivitas ringan seperti berjalan kaki, bersepeda, atau pekerjaan rumah tangga, yang tetap memberi kontribusi nyata terhadap kesehatan jangka panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya