Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pembiayaan Alat Berat Tumbuh Minimal, Proyek Energi Terbarukan Jadi Harapan

Pembiayaan alat berat hanya tumbuh 0,12% hingga Agustus 2026, namun peluang dari proyek energi terbarukan diharapkan jadi penopang pertumbuhan ke depan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 13 Oktober 2026, 21.22 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 34x dibuka
Pembiayaan Alat Berat Tumbuh Minimal, Proyek Energi Terbarukan Jadi Harapan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pembiayaan alat berat oleh perusahaan pembiayaan mencatat pertumbuhan stagnan pada periode Agustus 2026, dengan total penyaluran sebesar Rp48,50 triliun atau hanya naik 0,12% dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan kenaikan yang sangat kecil, mengindikasikan perlambatan signifikan dalam aktivitas sektor konstruksi dan pertambangan yang menjadi pengguna utama alat berat. Kondisi ini menjadi perhatian otoritas karena menandakan ketidakseimbangan antara potensi ekonomi dan realisasi pembiayaan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan pertumbuhan positif akan kembali muncul di masa depan, terutama seiring dengan perluasan proyek-proyek infrastruktur energi terbarukan. Program pemerintah seperti pembangunan PLTS skala besar hingga proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik diharapkan menjadi pemicu permintaan alat berat. Dengan demikian, sektor energi terbarukan diproyeksikan menjadi diversifikasi penting bagi industri pembiayaan alat berat.

Di sisi lain, penyaluran pembiayaan ke sektor produktif secara keseluruhan mengalami kontraksi 1,81% menjadi Rp241,88 triliun, atau menyumbang 44,44% dari total piutang multifinance. Pembiayaan investasi turun 4,47% menjadi Rp169,12 triliun, sedangkan pembiayaan modal kerja tumbuh 5,40% dan pembiayaan multiguna naik 4,58%. Di sektor UMKM, pembiayaan investasi tetap menjadi dominan, mencapai Rp83,55 triliun atau 53,09% dari total Rp157,37 triliun.

Meskipun aktivitas pembiayaan produktif melemah, kinerja keuangan industri multifinance justru membaik. Laba bersih per Agustus 2026 mencapai Rp17,38 triliun, tumbuh 19,04% dibanding periode sama tahun lalu. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan pembiayaan kendaraan listrik dan hybrid yang melonjak 34,67% menjadi Rp26,20 triliun, meski total pembiayaan kendaraan bermotor turun 0,68% menjadi Rp403,02 triliun. Saat ini terdapat 144 perusahaan pembiayaan, dengan 141 konvensional dan 3 syariah, sementara OJK sedang meninjau permohonan perubahan kepemilikan dan merger.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya