Jumat, 9 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Menguat ke Rp17.899 di Akhir Pekan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 0,09% pada penutupan perdagangan Jumat, menetapkan posisi Rp17.899 per dolar AS.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 9 Oktober 2026, 21.15 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Rupiah Menguat ke Rp17.899 di Akhir Pekan📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026, dengan kenaikan sebesar 16 poin atau setara 0,09% ke level Rp17.899 per dolar AS. Penguatan ini tercatat setelah sebelumnya sempat berada di posisi Rp17.915, menunjukkan pemulihan signifikan dalam dinamika pasar valuta asing pada akhir pekan. Data dari JISDOR Bank Indonesia juga mencatat penguatan rupiah ke level Rp17.884 per dolar AS, lebih baik dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp17.890.

Kenaikan rupiah dipengaruhi oleh sentimen eksternal yang memengaruhi pasar global, khususnya terkait perkembangan hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut adanya "diskusi produktif" dengan Iran serta penegasan bahwa tidak ada rencana serangan sebelum pemilu paruh waktu pada 3 November, turut menurunkan ketegangan geopolitik. Hal ini berdampak positif pada sentimen pasar terhadap aset berkaitan volatilitas tinggi, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Dalam konteks yang sama, media Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menyatakan Teheran sedang meninjau respons AS terhadap usulan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Langkah ini dianggap sebagai upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan yang telah berlangsung selama delapan bulan terakhir. Sementara itu, AS terus memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran, termasuk dengan menjatuhkan sanksi baru pada Kamis, yang menargetkan 17 kapal serta jaringan pengangkut minyak mentah, produk minyak, dan petrokimia dari Iran.

Penguatan rupiah mencerminkan respons pasar terhadap perubahan dinamika geopolitik yang menurunkan risiko konflik di kawasan strategis. Dengan kondisi pasar yang lebih stabil, investor cenderung lebih percaya diri, sehingga mendorong aliran modal masuk dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. Penguatan ini juga menjadi sinyal positif bagi kebijakan moneter dan stabilitas makroekonomi dalam jangka pendek.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya