Selasa, 15 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Saham BBRI dan AMMN Pimpin Penguatan Pasar

Indeks BEI melemah tipis pada Senin (14/9), namun beberapa emiten seperti BBRI, AMMN, dan BRMS menguat signifikan berkat masuknya ke indeks GDX dan potensi arus modal asing.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 15 September 2026, 11.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
Saham BBRI dan AMMN Pimpin Penguatan Pasar📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di level 6.534,69, melemah 0,10% pada perdagangan Senin (14/9), menunjukkan tekanan pasar yang ringan meski ada pergerakan positif di sejumlah emiten unggulan. BBRI menjadi penguat utama dengan kenaikan 3,98%, disusul BBCA yang naik 2,77% dan AMMN melonjak 4,94%. Di sisi lain, saham BYAN turun 10,12%, EMAS terkoreksi 12,00%, serta SRAJ melemah 10,26%, mencerminkan ketegangan di sektor tertentu. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp330,69 miliar di pasar reguler dan Rp337,44 miliar secara keseluruhan, menunjukkan sentimen hati-hati terhadap pergerakan pasar.

Perhatian pasar terfokus pada perubahan konstituen indeks GDX, yang menaikkan AMMN dan BRMS sebagai anggota baru. AMMN menguat 4,94% dengan potensi aliran modal asing mencapai sekitar Rp717 miliar. BRMS juga masuk dalam GDX dan GDXJ, mencatat kenaikan 8,15% dengan potensi arus masuk sekitar Rp521 miliar. Sebaliknya, EMAS terkoreksi 12,00% seiring ekspektasi outflow sekitar Rp277 miliar. ETF EIDO dan indeks MSCI Indonesia masing-masing menguat 1,33% dan 2,80%, menunjukkan pergerakan positif di sektor ekuitas global.

Di sektor korporasi, Indika Energy (INDY) mempercepat transformasi bisnis melalui pengembangan kendaraan listrik. Dalam tiga entitas utama—ALVA untuk motor listrik, Ilectra Motor Group/Invi untuk bus dan truk listrik industri, serta KALISTA untuk kendaraan komersial dengan model fleet as a service—perseroan mencatat progres signifikan. Hingga September 2026, ALVA telah mendistribusikan 20.000 unit motor listrik, dua kali lipat dari capaian FY25. KALISTA mengelola 101 unit bus listrik dan mengoperasikan 225 stasiun pengisian daya di 120 lokasi. Target ke depan adalah penerapan kendaraan listrik di sektor pertambangan dan penerapan model bisnis berbasis layanan berulang.

Kinerja keuangan INDY pada semester pertama 2026 (1H26) mencatat pendapatan US$1,15 miliar, naik 19,87% dibandingkan US$956,82 juta di 1H25. Laba bersih melonjak 354,30% menjadi US$10,20 juta dari US$2,24 juta. Di sisi lain, Sinergi Inti Andalan Prima (INET) mencatat pertumbuhan kinerja ekstrem dengan pendapatan naik 1.958,68% menjadi Rp926,45 miliar dari Rp45 miliar pada 1H25. Peningkatan ini didorong oleh konsolidasi entitas akuisisi, terutama Personel Alih Daya (PADA), yang menyumbang 84,5% dari total pendapatan. Ekspansi juga dilakukan melalui akuisisi penyedia layanan internet di Kalimantan, meski margin bruto turun dari 37,3% menjadi 13,2% akibat pergeseran bauran pendapatan.

Perusahaan lain yang mencatat aktivitas signifikan adalah Trimegah Karya Pratama (UVCR), yang menghentikan program buyback saham tahun 2026 setelah mencapai target. Sebanyak 9,60 juta saham dibeli kembali, setara 0,48% dari modal, dengan total pengeluaran Rp1,50 miliar dan harga rata-rata Rp156 per saham. Pembelian dilakukan pada dua hari perdagangan—10 September (3,84 juta saham, rata-rata Rp159) dan 11 September (5,76 juta saham, rata-rata Rp153). Program ini mendukung pengelolaan modal dan kesehatan struktur ekuitas perusahaan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya