Senin, 14 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

September Puncak Karhutla, Operasi Modifikasi Cuaca Dimaksimalkan

Pemerintah mempersiapkan penanganan karhutla di bulan September sebagai puncak musim kering, dengan peningkatan operasi modifikasi cuaca, water bombing, dan penempatan pasukan darat secara strategis.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 05.44 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
September Puncak Karhutla, Operasi Modifikasi Cuaca Dimaksimalkan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Bulan September diperkirakan menjadi puncak masa kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia, menurut pernyataan resmi pejabat kementerian. Dengan prakiraan hujan baru mulai masuk pada awal Oktober menurut BMKG, bulan ini menjadi fokus utama dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Pihak terkait menegaskan bahwa sebulan ini menjadi periode kritis, di mana setiap langkah strategis harus dilakukan secara maksimal.

Untuk memperkuat upaya pencegahan, operasi modifikasi cuaca (OMC) menjadi salah satu prioritas utama. Menteri Kehutanan menekankan efektivitas OMC sebagai alat utama dalam menciptakan hujan buatan, terutama di wilayah rawan dengan potensi kebakaran tinggi. Pihaknya meminta agar jendela operasional OMC dimanfaatkan secara optimal, mengingat kondisi atmosfer yang masih memungkinkan pelaksanaan.

Selain OMC, peningkatan kapasitas penanganan darat juga dilakukan. Pasukan satgas ditempatkan secara strategis di lokasi dengan jumlah hotspot tinggi, dengan sistem pergantian personel rutin untuk menjaga kondisi fisik dan efektivitas kerja. Kementerian Kehutanan juga memperkuat tenaga lapangan melalui mekanisme BKO (Bantuan Kekuatan Operasional), dengan penambahan lebih dari 1.000 personel untuk mendukung operasi utama.

Data terkini dari wilayah Kalimantan menunjukkan dinamika berbeda. Di Kalimantan Barat, jumlah hotspot naik menjadi 7.377 titik dengan 72 titik api, jarak pandang terpantau di bawah 1 kilometer. Di Kalimantan Tengah, hotspot turun menjadi 5.244 titik meski titik api tetap stabil di angka 72. Sementara di Kalimantan Selatan, hotspot turun menjadi 504 titik dengan jarak pandang di bawah 2 kilometer. Di Sumatera, Riau dan Jambi menunjukkan penurunan titik api, sementara Sumatera Selatan mengalami kenaikan hotspot hingga 1.013 titik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya