Minggu, 13 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Singapura Perkuat Kesiapan Sosial Hadapi Ancaman Terorisme

Insiden rencana penusukan massal oleh remaja 14 tahun menggugah upaya sistemik penguatan kesiapan psikologis dan partisipasi masyarakat dalam mitigasi ancaman terorisme.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 13 September 2026, 19.37 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Singapura Perkuat Kesiapan Sosial Hadapi Ancaman Terorisme📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Seorang remaja berusia 14 tahun di Singapura berhasil dicegah melakukan aksi terorisme berupa penusukan massal di sekolah menengah selama libur, setelah pihak keamanan dalam negeri menangkapnya sebelum pelaksanaan rencana. Insiden ini menyoroti kerentanan terhadap ancaman terorisme yang semakin tidak terduga dan berasal dari individu dengan latar belakang biasa. Pemerintah menekankan bahwa respons terhadap ancaman semacam ini tidak bisa hanya diandalkan pada aparat penegak hukum, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat sebagai garda terdepan dalam pencegahan.

Kesiapan mental masyarakat menjadi fokus utama dalam strategi mitigasi. Asisten Direktur Divisi Psikologi Home Team, Jasmine Tan, menegaskan bahwa menghadapi terorisme bukan sekadar mengatasi rasa takut, melainkan membekali individu dengan kemampuan mengambil tindakan nyata dalam situasi krisis. Melalui simulasi dan pelatihan rutin, masyarakat diajak memahami bentuk-bentuk ancaman dan bagaimana meresponsnya secara efektif, seperti mengevakuasi korban atau memberikan pertolongan pertama. Tujuannya adalah mengurangi reaksi pasif dan menghindarkan kepanikan massal.

Pendekatan kolektif dalam ketahanan krisis diperkuat melalui penerapan Pertolongan Pertama Psikologis (Psychological First Aid) di tingkat komunitas. Dr. Diong Siew Maan menekankan pentingnya keterampilan dasar seperti mendengarkan tanpa menghakimi, mengenali tanda stres emosional, dan menghubungkan korban dengan dukungan profesional. Dengan pelatihan yang merata, setiap individu diharapkan bisa menjadi penopang emosional bagi sesama, terutama dalam kondisi di mana sumber daya psikologis terbatas. Petugas penanganan darurat pun didorong untuk menjaga kesehatan mental kolektif melalui pengawasan internal yang ketat.

Masih terjadi kesenjangan antara niat dan tindakan nyata. Sebuah riset menunjukkan hanya 5,9% dari peserta eksperimen yang melaporkan temuan benda mencurigakan, meskipun sebagian besar menyadari pentingnya tindakan tersebut. Kesenjangan ini disebabkan oleh faktor seperti kebiasaan acuh, kecenderungan bystander effect, dan kelelahan mental. Upaya pemerintah kini fokus pada perubahan mindset agar masyarakat melihat ancaman terorisme bukan sebagai ancaman jauh, tetapi sebagai risiko yang bisa muncul di lingkungan terdekat. Dukungan psikologis juga diperluas bagi publik luas yang terpapar informasi terkait insiden secara intensif.

Rehabilitasi terhadap pelaku radikalisme menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi jangka panjang. Pendekatan yang digunakan menekankan pemahaman terhadap latar belakang psikologis, motivasi, dan celah kerentanan yang memicu paham ekstrem. Psikolog yang memilih tetap anonim menyatakan bahwa setiap individu, meski pernah terlibat dalam ideologi radikal, layak diberi kesempatan berubah. Di sisi lain, pihak keamanan menyoroti bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah berdampak langsung pada meningkatnya risiko terorisme global, menjadikan Singapura sebagai target potensial yang perlu terus dipantau secara intensif.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Keluarga Korban Minta D4vd Dihukum Mati
Hukum & Kriminal

Keluarga Korban Minta D4vd Dihukum Mati

Keluarga Celeste Rivas Hernandez menuntut hukuman mati bagi D4vd dan menggugatnya atas dugaan pembunuhan serta eksploitasi seksual terhadap anak di bawah umur, dengan klaim bahwa pelaku dan pihak terkait gagal melindungi korban.

13 September 2026

Berita Lainnya