BRICS di India: Koalisi Global South Hadapi Tantangan Internal dan Eksternal
Konferensi Tingkat Tinggi BRICS di New Delhi menyoroti ambisi kolektif negara-negara Global South, meski dihadapkan pada ketergantungan dolar dan perbedaan kebijakan strategis yang melemahkan kohesi blok.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 13 September 2026, 15.40 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - India menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi BRICS pada 12–13 September, menjadi panggung penting bagi 11 negara anggota yang berupaya memperkuat posisi dalam tatanan global pasca-krisis keuangan 2008. Momentum ini berlangsung di tengah ketegangan geopolitik yang memengaruhi kohesi kelompok, terutama menyusul serangan AS-Israel terhadap Iran—negara baru yang bergabung dalam BRICS pada 2024 bersama Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Mesir, Etiopia, dan Indonesia. Kehadiran Presiden Rusia Vladimir Putin dalam acara tersebut menegaskan komitmen strategis anggota terhadap kerja sama lintas blok meski secara politik terjadi polarisasi global.
Kendati BRICS dirancang sebagai alternatif terhadap dominasi Barat, realitas menunjukkan bahwa struktur kelembagaan mereka masih belum mampu menggantikan peran lembaga seperti IMF atau Bank Dunia. Bank Pembangunan Baru (NDB), satu-satunya institusi keuangan yang didirikan oleh BRICS, telah menyetujukan pendanaan sekitar US$ 39 miliar hingga akhir 2024, angka yang jauh lebih kecil dibandingkan komitmen keuangan global lainnya. Selain itu, sebagian besar transaksi tetap dilakukan dalam dolar AS, menunjukkan ketergantungan yang belum teratasi.
Di bidang ekonomi, kekuatan BRICS terlihat dari data yang menunjukkan dominasi di berbagai sektor global: hampir separuh populasi dunia, 40% dari output ekonomi global, 44% produksi minyak dunia, dan sekitar 25% perdagangan internasional. Pertumbuhan ekonomi blok diperkirakan mencapai 3,7% pada tahun ini, melampaui pertumbuhan G7 yang stagnan di angka 1%. Namun, analis menekankan bahwa potensi tersebut belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kekuatan sistemik, terutama karena minimnya keterpaduan kebijakan dan keterbatasan kapasitas keuangan kolektif.
Di ranah geopolitik, perluasan anggota justru menimbulkan ketegangan. Pertemuan menteri luar negeri BRICS pada Mei 2026 gagal menghasilkan pernyataan bersama karena perbedaan pendapat antara Iran—yang menuntut kecaman terhadap AS dan Israel—dengan UEA yang menolak tegas usulan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa BRICS tidak memiliki mekanisme pertahanan kolektif atau keharusan konsensus. Setiap negara mempertahankan kebebasan kebijakan luar negerinya, sehingga kohesi internal tetap rapuh.
Meski demikian, masuknya negara-negara produsen minyak besar dan investasi China yang intensif di anggota BRICS memberikan ruang strategis bagi negara berkembang untuk mempertahankan kemandirian ekonomi di tengah tekanan hegemoni Washington dan Beijing. Dalam praktiknya, BRICS kini lebih berfungsi sebagai forum kemandirian daripada gerakan penggantian tatanan global. Sebagaimana disimpulkan oleh analis, kelompok ini muncul sebagai penantang terhadap dominasi Barat dalam bentuk tekanan politik dan ekonomi, bukan sebagai pengganti struktural sistem internasional saat ini.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Tonton Videonya
Berita Terkait

BRICS Dorong Integrasi Ekonomi Hadapi Tekanan Barat
Presiden Iran dan Rusia serukan perkuat kerja sama ekonomi global melalui mata uang lokal dan perluasan integrasi BRICS demi tahan tekanan sanksi dan ketidakstabilan pasar.
13 September 2026

Gerakan Cinta Rupiah: Aksi Simbolis di Tengah Krisis 1998
Putri Presiden Soeharto memimpin gerakan nasional untuk menguatkan rupiah dengan menukar dolar dan emas pribadi, diikuti pejabat, menteri, dan pengusaha, namun efektivitasnya terbatas di tengah krisis ekonomi mendalam.
13 September 2026

Lima Tahun Integrasi, UMi Dorong Jutaan UMKM Naik Kelas
Holding Ultra Mikro mencatatkan keberhasilan signifikan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dengan mendorong 2,3 juta debitur naik kelas hingga akhir triwulan II 2026.
13 September 2026

Lima Tanda Kehidupan Ekonomi Terbatas di Masyarakat
Kondisi keuangan yang terus terhimpit dapat dikenali melalui akses tempat tinggal, jenis pekerjaan, ketiadaan tabungan, gaya hidup terbatas, dan kesulitan menjangkau pendidikan tinggi.
13 September 2026
Berita Lainnya

Prabowo Tiba di New Delhi Hadiri KTT BRICS ke-18
Minggu, 13 September 2026, 15.39 WITA

Penutupan Pipa Minyak Utama Picu Krisis Global
Minggu, 13 September 2026, 15.37 WITA

Prabowo Ajak BRICS Perkuat Sistem Global Berkelanjutan
Minggu, 13 September 2026, 15.35 WITA

50 Perusahaan Disegel Usai Picu Karhutla, 138 Tersangka Ditetapkan
Minggu, 13 September 2026, 15.35 WITA

Amran Dapat Perintah Langsung Prabowo Tindak Mafia Beras
Minggu, 13 September 2026, 15.28 WITA

Ruben Onsu Minta Maaf, Janji Transparansi Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Betrand Peto
Minggu, 13 September 2026, 15.21 WITA
Betrand Peto Dilaporkan Terkait Dugaan Kekerasan Seksual
Minggu, 13 September 2026, 15.20 WITA

WR155R Jaga Stabilitas Pasar di Segmen Trail
Minggu, 13 September 2026, 11.49 WITA




