Minggu, 13 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Gerakan Cinta Rupiah: Aksi Simbolis di Tengah Krisis 1998

Putri Presiden Soeharto memimpin gerakan nasional untuk menguatkan rupiah dengan menukar dolar dan emas pribadi, diikuti pejabat, menteri, dan pengusaha, namun efektivitasnya terbatas di tengah krisis ekonomi mendalam.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 13 September 2026, 15.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Gerakan Cinta Rupiah: Aksi Simbolis di Tengah Krisis 1998📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada awal 1998, Indonesia tengah dilanda krisis moneter akibat dampak krisis keuangan Asia yang bermula dari krisis baht Thailand. Nilai tukar rupiah melemah drastis, melambung dari kisaran Rp2.000 per dolar AS menjadi lebih dari Rp10.000, bahkan sempat menyentuh level Rp16.000. Di tengah keguncangan ini, muncul inisiatif sosial yang bertujuan memulihkan kepercayaan publik terhadap mata uang nasional. Gerakan Cinta Rupiah (Getar) diluncurkan oleh Siti Hardijanti Rukamana, putri sulung Presiden Soeharto, yang mengajak masyarakat melepas simpanan dolar demi menyelamatkan nilai rupiah.

Langkah pertama diambil secara langsung oleh tokoh yang memimpin gerakan tersebut. Mbak Tutut menyerahkan dana pribadi sebesar US$ 50 ribu untuk ditukar menjadi rupiah. Ia juga turut menyumbangkan dua kilogram emas miliknya ke negara, sebagai bentuk komitmen moral. Aksi ini menjadi simbol keberpihakan terhadap rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi. Gerakan ini kemudian mendapat respons cepat dari berbagai kalangan, termasuk pejabat tinggi negara dan tokoh ekonomi.

Banyak pejabat, termasuk anggota MPR dan tokoh militer seperti Susilo Bambang Yudhoyono, ikut serta dalam aksi pertukaran dolar di Bank Indonesia. Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad dan Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono juga turut berpartisipasi. Secara kolektif, dana dari aksi pertama ini mencapai sekitar US$ 650 ribu. Di kalangan pengusaha, Aburizal Bakrie, The Ning King, dan Imam Taufik masing-masing menyerahkan US$ 100 ribu, sementara Sukamdani Sahid Gitosardjono menyumbang US$ 50.100 serta 1 kilogram emas, menjadi salah satu penyumbang terbesar perorangan pada masa itu.

Meski mendapat dukungan publik dan pemberitaan luas, gerakan ini dikritik karena dianggap tidak mampu menyelesaikan krisis secara struktural. Total dana yang terkumpul diperkirakan tidak lebih dari US$ 5 juta, jauh di bawah kebutuhan devisa nasional yang mencapai miliaran dolar AS. Kritik tajam muncul dari kalangan ekonom, termasuk pengusaha Fahmi Idris, yang menyatakan bahwa aksi ini tidak akan mengubah tren pelemahan rupiah. Krisis berlanjut, harga barang pokok melonjak, dan akhirnya memicu gelombang protes sosial yang berujung pada jatuhnya rezim Orde Baru pada 21 Mei 1998.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya