Rabu, 7 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Super El Niño 2026–2027 Ancam Ketahanan Pangan dan Stabilitas Ekonomi

Prediksi ilmiah menunjukkan El Niño kuat hingga 2027 berpotensi picu krisis pangan, inflasi, dan kebakaran hutan di sejumlah wilayah Indonesia.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 15.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 9x dibuka
Super El Niño 2026–2027 Ancam Ketahanan Pangan dan Stabilitas Ekonomi📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Para ilmuwan dari berbagai lembaga internasional dan dalam negeri memperingatkan kemungkinan munculnya fenomena Super El Niño pada periode Oktober 2026 hingga Februari 2027, dengan kekuatan melampaui rekor sebelumnya sejak era 1950-an. Indikator utama, indeks Niño 3.4, telah menunjukkan anomali suhu permukaan laut positif 0,5 derajat Celsius dan diperkirakan meningkat hingga rata-rata 3,0 derajat Celsius dalam dua tahun ke depan, menandakan intensifikasi ekstrem. Proyeksi ini didukung oleh model simulasi dari 14 sistem iklim NASA NEX-GDPP yang menunjukkan lonjakan risiko kekeringan hingga 2028.

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap sektor pertanian, khususnya produksi padi. Peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Erma Yulihastin, menyatakan bahwa perubahan pola hujan dan kenaikan suhu akan mengganggu jadwal tanam musim hujan 2026/2027. Jika hujan terlambat datang, panen yang biasanya berlangsung Maret hingga April bisa tergeser ke April hingga Mei—periode yang historis menjadi krusial bagi harga pangan. Hal ini berpotensi menimbulkan defisit pasokan dan kenaikan harga beras secara signifikan.

Dampak ekonomi pun tak bisa diabaikan. Studi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan bahwa setiap puncak El Niño berkorelasi erat dengan lonjakan inflasi, khususnya pada komoditas pangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan Agustus 2026 sebesar 0,21 persen, didorong oleh kenaikan harga daging ayam, ikan, cabai, bawang, dan beras. Perbandingan terhadap periode El Niño 2015–2016 dan 2023–2024 menunjukkan bahwa penurunan produksi lahan pertanian berdampak langsung pada kenaikan harga pangan dan tekanan pada neraca beras nasional.

Ketika El Niño 2023–2024 terjadi, Indonesia mengalami defisit beras dan harus mengimpor 4,52 juta ton—meningkat signifikan dibanding 2015 (861 ribu ton) dan 2016 (1,28 juta ton). Kondisi diperparah oleh larangan ekspor beras nonbasmati dari India, salah satu eksportir utama dunia, yang membuat pasokan global terbatas dan harga melonjak. Dalam konteks ini, perlu kebijakan antisipatif dari pemerintah untuk menjaga ketersediaan stok dan memastikan distribusi yang merata.

Dengan risiko panas ekstrem yang meningkat di wilayah Kalimantan dan Papua, serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin tinggi, diperlukan pendekatan berbasis data dan perencanaan jangka panjang. Para peneliti menekankan bahwa ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi di Indonesia sangat bergantung pada kesiapan mitigasi dini terhadap dampak El Niño. Tanpa intervensi strategis, ancaman krisis pangan dan inflasi yang lebih besar akan sulit dihindari.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya