Selasa, 15 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Survei AS Ungkap Kepopuleran Netanyahu Menurun Drastis

Sebanyak 54 persen warga AS menilai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara negatif, menurut survei YouGov dan Economist yang dilakukan Juli 2026.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.59 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Survei AS Ungkap Kepopuleran Netanyahu Menurun Drastis📷 Tempo

Kendari, ıNarasikita - Sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh YouGov bekerja sama dengan The Economist menunjukkan dominasi opini negatif terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di kalangan warga Amerika Serikat. Dari total 1.559 responden, 54 persen menyatakan pandangan buruk terhadap pemimpin Israel tersebut, sementara hanya 23 persen yang memberikan penilaian positif. Angka ini menggambarkan penurunan signifikan dalam popularitas Netanyahu di mata publik AS, terutama dalam konteks konflik di Jalur Gaza.

Hasil survei juga menyoroti persepsi publik terhadap tanggung jawab Netanyahu atas kejahatan perang. Sebanyak 47 persen responden meyakini bahwa Netanyahu bertanggung jawab atas tindakan yang mencerminkan kejahatan perang, dan sebagian besar menilai tindakannya merusak hubungan strategis antara AS dan Israel. Sebanyak 49 persen responden mendukung langkah penahanan Netanyahu jika ia berkunjung ke wilayah Amerika Serikat, sejalan dengan perintah penahanan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

Pertemuan tatap muka antara Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump pada 28 Juli 2026 di Gedung Putih menjadi momen penting untuk menunjukkan konsistensi koalisi strategis. Meski sebelumnya hubungan sempat retak, terutama pada April 2026 saat Trump menyebut Netanyahu sebagai "orang yang sangat sulit", kedua pemimpin menyatakan pertemuan berlangsung positif dan produktif. Netanyahu menggambarkan percakapan tersebut sebagai salah satu yang paling efektif dalam sejarah kerja sama bilateral.

Tujuan utama kunjungan ini adalah memperkuat citra kesatuan antara AS dan Israel di tengah ketegangan regional, terutama terkait upaya menghambat program nuklir Iran. Pemimpin Israel juga menekankan kesepakatan kerangka kerja dengan Lebanon sebagai prioritas, meski implementasinya masih menghadapi hambatan di lapangan. Di sisi lain, upaya pemulihan Gaza tetap terkendala, dengan situasi kemanusiaan yang belum membaik setelah hampir tiga tahun perang berkepanjangan.

Menurut Yonatan Freeman, pakar hubungan internasional dari Universitas Ibrani Yerusalem, kunjungan ini dimaksudkan untuk menggagalkan narasi tentang ketegangan dalam aliansi AS-Israel. Ia menilai bahwa tujuan utamanya adalah menunjukkan solidaritas kepada dunia internasional, termasuk Iran dan negara-negara tetangga, bahwa kedua negara tetap berjalan seirama dalam isu keamanan strategis, terutama soal ancaman nuklir Iran.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya