Rabu, 30 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Sustainability Jadi Fondasi Daya Saing Korporasi

Riset terbaru menegaskan bahwa sustainability kini menjadi faktor krusial dalam menentukan daya saing perusahaan di lima sektor strategis, bukan sekadar kepatuhan lingkungan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 30 September 2026, 21.01 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Sustainability Jadi Fondasi Daya Saing Korporasi📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Transformasi ekonomi global yang dipengaruhi ketidakpastian geopolitik, perubahan iklim, dan pergeseran rantai pasok mendorong perusahaan untuk melihat sustainability bukan sebagai beban, melainkan sebagai strategi inti. Dalam konteks ini, sustainability bukan lagi soal pelaporan ESG semata, melainkan bagian dari pengelolaan risiko, alokasi modal, dan penciptaan nilai jangka panjang. Riset terbaru menggarisbawahi bahwa perusahaan yang mampu mengintegrasikan sustainability dalam strategi operasional akan memiliki keunggulan kompetitif yang lebih tahan lama.

Laporan tersebut mengidentifikasi tiga pilar utama yang menentukan daya saing korporasi dalam dekade mendatang: ketahanan operasional, akses pasar, dan ketahanan terhadap risiko iklim serta gangguan rantai pasok. Di berbagai sektor, pergeseran ini mengubah paradigma dari sekadar menjaga lingkungan menjadi membangun sistem bisnis yang resilien dan adaptif. Menurut analis riset, perusahaan yang hanya fokus pada profit tanpa mempertimbangkan aspek keberlanjutan akan kesulitan bersaing di pasar global yang semakin ketat.

Dalam sektor energi, lonjakan konsumsi listrik hingga lebih dari 1.800 TWh pada 2060—didorong oleh elektrifikasi rumah tangga, pusat data, dan kendaraan listrik—membuka ruang besar untuk investasi di energi terbarukan, sistem penyimpanan energi (BESS), dan modernisasi jaringan. Di bidang digital, pertumbuhan ekonomi digital yang diperkirakan mencapai USD99 miliar pada 2025, didukung oleh adopsi AI yang tinggi, menuntut pengembangan infrastruktur digital hijau seperti data center ramah lingkungan dan teknologi pendingin efisien.

Di sektor kesehatan, ketergantungan pada impor bahan baku farmasi aktif (90%) menjadi ancaman serius terhadap ketahanan pasokan. Solusi berkelanjutan kini berfokus pada lokalisasi produksi secara selektif, diversifikasi pemasok, dan penguatan manufaktur domestik. Sementara itu, di agribisnis, fokus beralih dari ekspansi lahan ke peningkatan produktivitas melalui teknologi pertanian (agritech), sistem pelacakan global (traceability), dan logistik dingin. Di industri logam dan pertambangan, kunci keunggulan bergeser dari volume produksi ke nilai tambah, termasuk produksi baterai rendah karbon, daur ulang, dan kepatuhan terhadap regulasi internasional seperti CBAM dan EU Battery Regulation.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya