Utang Pemerintah Dekati Rp11.000 Triliun, Fokus pada Efisiensi Penggunaan Dana
Realisasi pembiayaan utang hingga September 2026 mencapai Rp494,3 triliun, mendekati batas anggaran, dengan total utang pemerintah yang kian mendekati Rp11.000 triliun.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 21.03 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 30x dibuka
📷 SindonewsKendari, ıNarasikita - Realisasi pembiayaan utang pemerintah hingga akhir September 2026 telah menembus angka Rp494,3 triliun, atau setara 59,4% dari target APBN tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp832,2 triliun. Angka ini didominasi oleh penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto sebesar Rp497,5 triliun, sementara pinjaman neto justru tercatat negatif Rp3,2 triliun, menunjukkan ketergantungan utama pada instrumen pasar modal. Meski masih dalam batas pagu, peningkatan utang terus menjadi perhatian karena dampak jangka panjang terhadap struktur anggaran negara.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menekankan bahwa setiap tambahan utang akan menambah beban pembiayaan APBN, terutama dalam bentuk pembayaran pokok dan bunga yang semakin membengkak. Ia menyoroti pentingnya memastikan bahwa dana hasil pinjaman digunakan secara efektif untuk proyek-proyek yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi, agar kemampuan membayar kewajiban di masa depan tetap terjaga tanpa mengorbankan belanja produktif.
Faisal memperkirakan total utang pemerintah telah mendekati angka Rp11.000 triliun, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal jangka panjang. Ia menyebut defisit APBN pada periode tersebut mencapai Rp319 triliun, setara 1,24% terhadap PDB, masih berada di bawah ambang batas 3% yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Namun, ia memperingatkan bahwa jika tren ini berlanjut tanpa perbaikan efisiensi, rasio defisit berpotensi melebar di tahun-tahun mendatang.
Dengan kondisi tersebut, Faisal menekankan perlunya evaluasi ketat terhadap alokasi dana dan pengawasan ketat terhadap proyek yang menggunakan pinjaman negara. Kunci keberlanjutan fiskal bukan hanya pada pengelolaan utang, tetapi pada seberapa besar kontribusi proyek tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi dan kemandirian anggaran di masa depan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

D-8 Dorong Perdamaian Melalui Diplomasi dan Kolaborasi Ekonomi
Sekjen D-8 tegaskan peran strategis negara anggota dalam menjaga stabilitas global dan memperkuat kerja sama ekonomi melalui transformasi hijau dan digital.
24 Oktober 2026

Monako Ungguli Dunia sebagai Tempat Tinggal Terbaik 2026
Monako meraih posisi teratas dalam indeks tempat tinggal terbaik dunia 2026 berdasarkan evaluasi lima aspek kunci, termasuk kualitas hidup dan keamanan.
24 Oktober 2026

Gajian Jadi Waktu Tepat, Transmart Gelar Diskon Besar-besaran
Transmart menggelar Full Day Sale pada 25 Oktober 2026 dengan diskon hingga 50% + 20% khusus pemegang kartu kredit Bank Mega, Mega Syariah, dan Mandiri.
24 Oktober 2026

Kipas Angin Lokal Dominan, Komponen Impor dari China
Di Glodok, Jakarta Barat, mayoritas kipas angin merek lokal dirakit dalam negeri, tetapi sebagian besar komponennya berasal dari China, didukung harga kompetitif dan kebutuhan industri.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Madrasah Harus Jadi Ruang Belajar Inklusif dan Aman Digital
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

PLTS Terapung di Waduk Tembesi Capai 74 Persen Progres
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

OJK Sultra Dorong Inklusi Keuangan Lewat BIK 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

Gubernur Kalteng Tanam Pohon di Lokasi Karhutla Tumbang Nusa
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA

Menteri Tinjau Langsung BSPS di Jakarta Barat
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA
Sulut Juara Umum Kejurnas Pacuan Kuda 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.23 WITA

7 Kebiasaan Sederhana untuk Hidup Lebih Bahagia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.21 WITA

Makan Sebelum dan Sesudah Olahraga, Kunci Optimalisasi Performa Tubuh
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.20 WITA

