Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Investor Desak MSCI Jelaskan Alasan Penurunan Status Pasar Indonesia

Investor global mendesak MSCI menjelaskan alasan ancaman penurunan kasta pasar modal Indonesia, menekankan perlunya transparansi dan penindakan nyata terhadap manipulasi pasar.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Investor Desak MSCI Jelaskan Alasan Penurunan Status Pasar Indonesia📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sejumlah pemegang saham institusional meminta Morgan Stanley Capital International (MSCI) memberikan penjelasan rinci atas ancaman penurunan status pasar modal Indonesia dari kategori negara berkembang ke pasar mandiri. Permintaan ini disampaikan dalam forum diskusi yang diselenggarakan UBS Group AG, menyoroti ketidakpastian terkait kriteria evaluasi dan dampak jangka panjang jika keputusan tersebut diterapkan. Para investor menekankan pentingnya kejelasan atas indikator yang digunakan, terutama terkait praktik perdagangan yang diduga terkoordinasi dan kelemahan penegakan hukum di pasar saham.

Managing Director MSCI Raman Aylur Subramanian menegaskan bahwa penilaian terhadap Indonesia bukan hanya soal indeks, melainkan kondisi struktural pasar modal secara menyeluruh. Ia menyatakan bahwa integritas pasar harus dipulihkan melalui reformasi sistemik, termasuk penanganan pelaku yang merusak kepercayaan investor. Menurutnya, perubahan tidak bisa hanya berupa kebijakan teknis, tetapi harus diikuti dengan komitmen nyata dalam penegakan aturan dan transparansi kepemilikan saham.

Pendapat serupa disampaikan oleh Managing Partner Carthage Capital, Stephen Wu, yang menilai akar masalah terletak pada dugaan manipulasi pasar yang terus berlangsung serta lemahnya penegakan hukum. Ia menekankan bahwa perubahan harus terlihat dari tindakan nyata, termasuk penindakan terhadap pelaku besar yang memiliki koneksi politik. Menurut Wu, konsistensi dalam penegakan aturan selama beberapa kuartal menjadi syarat penting agar pasar dapat mempertahankan statusnya sebagai emerging market.

Di sisi lain, strategis pasar berkembang dari Tellimer, Hasnain Malik, menyoroti pentingnya mendorong pemilik perusahaan untuk memperbesar free float dengan melepas saham lebih luas ke publik. Ia menilai sebagian besar saham masih berada dalam tangan pemegang saham terkonsentrasi yang tidak aktif diperdagangkan, sehingga membatasi likuiditas dan transparansi. Meski Bursa Efek Indonesia telah mengusulkan pengeluaran sekitar 80 perusahaan dengan kepemilikan sangat tinggi dari indeks acuan, Subramanian menyatakan langkah tersebut belum cukup dan kriteria pemilihan belum jelas.

MSCI menegaskan bahwa hingga 15 Oktober, masih terdapat kekhawatiran signifikan terhadap praktik perdagangan terkoordinasi, tanpa adanya bukti penindakan yang substantif. Perusahaan yang terlibat tetap diperbolehkan bertransaksi, tetapi isu kepemilikan, free float, dan pola perdagangan tetap menjadi perhatian utama. Indonesia memiliki waktu hingga akhir April 2027 untuk menunjukkan perbaikan berkelanjutan, dengan keputusan akhir dijadwalkan Juni 2027. Sejauh ini, investor global telah melakukan penjualan bersih saham Indonesia senilai US$5,3 miliar (setara Rp95,72 triliun) sepanjang 2026, dengan risiko arus keluar miliaran dolar jika status pasar turun.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya