Senin, 14 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

25 Tahun Demokrat: Politik Harus Berpijak pada Suara Rakyat

Wakil Ketua MPR RI Ibas tegaskan demokrasi harus benar-benar mendengarkan rakyat dalam setiap kebijakan dan proses politik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 21.47 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
25 Tahun Demokrat: Politik Harus Berpijak pada Suara Rakyat📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Dalam peringatan 25 tahun berdirinya Partai Demokrat, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas menekankan bahwa inti dari sistem demokrasi bukan sekadar prosedur, melainkan keterlibatan aktif dan responsif terhadap suara rakyat. Ibas menyampaikan pandangan tersebut dalam sarasehan yang digelar di kantor pusat partai, dengan menghadirkan tokoh-tokoh nasional dan akademisi dari berbagai disiplin ilmu.

Acara yang dibuka oleh Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono ini menjadi ruang refleksi penting atas perjalanan partai selama dua dasawarsa lebih. Di antara pembicara utama, mantan Wakil Presiden Boediono menjadi narasumber kunci, membahas dinamika politik dan stabilitas nasional. Sementara itu, narasumber lain seperti Hikmahanto Juwana, Hermanto Siregar, Yenny Wahid, Siti Zuhro, dan Greg Barton mengupas isu-isu strategis mulai dari ekonomi, geopolitik, hingga reformasi demokrasi.

Ibas menyoroti pentingnya pola komunikasi yang seimbang antara lembaga legislatif dan masyarakat. Ia menegaskan bahwa para anggota parlemen sering kali diharapkan lebih banyak mendengar ketimbang berbicara, mengingat masyarakat cenderung menganggap politisi yang terlalu banyak bicara sebagai tidak peka. “Karena kalau politisi banyak bicara, katanya omon-omon,” ujar Ibas, menekankan perlunya ruang dialog yang terbuka dan inklusif.

Dalam perspektifnya, tantangan bangsa saat ini bersifat kompleks dan saling terkait—dari isu lingkungan hingga stabilitas internasional, ekonomi, dan kesejahteraan rakyat. Menurut Ibas, pemecahan masalah tidak bisa dilakukan dari satu sudut pandang saja. Oleh karena itu, demokrasi yang sejati harus mampu mengintegrasikan berbagai perspektif, termasuk yang berasal dari akademisi, tokoh masyarakat, dan para praktisi di lapangan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya