Senin, 14 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Era Suku Bunga Tinggi Diperpanjang, BI Waspadai Aliran Modal

Bank Indonesia memperingatkan dampak negatif era suku bunga tinggi yang berkepanjangan bagi ekonomi berkembang, termasuk aliran modal keluar akibat preferensi investor ke aset berkualitas tinggi di negara maju.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 14 September 2026, 15.35 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
Era Suku Bunga Tinggi Diperpanjang, BI Waspadai Aliran Modal📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kondisi global saat ini menunjukkan tren baru di mana suku bunga tinggi diproyeksikan bertahan lebih lama, sebuah fenomena yang disebut *higher for longer*. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyoroti dampak signifikan dari kondisi ini terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia, yang rentan mengalami tekanan atas aliran modal keluar. Ketika suku bunga di negara maju tetap tinggi, investor cenderung beralih ke aset dengan imbal hasil lebih menjanjikan, terutama di sektor teknologi dan kecerdasan buatan.

Dalam paparannya dalam rapat kerja dengan Komite IV DPD RI, Destry menjelaskan bahwa preferensi tersebut menyebabkan investasi global bergerak dominan ke negara-negara dengan infrastruktur teknologi maju, seperti Amerika Serikat. Di tengah kondisi ekonomi AS yang tumbuh solid meski diiringi inflasi yang meningkat—dorongan utama dari kenaikan harga minyak dunia—dolar AS menguat, sekaligus mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Indeks dolar AS (DXY) kini berada di level sekitar 99, sementara imbal hasil obligasi AS 10 tahun mendekati 5 persen, jauh melampaui angka normal sekitar 3 persen. Kenaikan ini menambah daya tarik aset AS, memperkuat posisi dolar, dan memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang. Destry menekankan bahwa prospek kenaikan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve sebesar 25 basis poin pada September atau Oktober mendatang memiliki probabilitas sekitar 70 persen.

Peningkatan suku bunga global berdampak langsung pada stabilitas keuangan domestik, termasuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan ketersediaan likuiditas. Bank Indonesia mengaku telah mempersiapkan berbagai instrumen kebijakan untuk menjaga ketahanan ekonomi, namun tetap menekankan perlunya kehati-hatian dalam menghadapi arus modal yang bersifat volatil. Tujuan utama adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makroekonomi di tengah tekanan global yang terus berlanjut.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya