Senin, 14 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melemah di Awal Perdagangan, Tekanan dari Geopolitik dan Inflasi AS

Indeks saham utama Indonesia turun lebih dari 1% dalam 20 menit perdagangan, dipicu koreksi saham tambang, ketegangan Timur Tengah, dan ekspektasi kenaikan suku bunga AS.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 14 September 2026, 11.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Melemah di Awal Perdagangan, Tekanan dari Geopolitik dan Inflasi AS📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tekanan signifikan pada awal perdagangan Senin (14/9/2026), langsung merosot lebih dari 1% dalam waktu kurang dari setengah jam. Pada pukul 09.17 WIB, indeks berada di level 6.475,25, turun 66,13 poin dari penutupan sebelumnya di 6.541,38. Pergerakan ini menandai penurunan tercepat sejak pembukaan pasar, dengan IHSG sempat menyentuh level terendah harian di 6.475,13 dalam hitungan menit pertama.

Koreksi tajam terjadi pada emiten tambang besar, khususnya saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang anjlok 6,48% ke posisi Rp11.550. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) melemah 5,25% ke Rp2.890, sementara PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) terpantau turun hingga 12,86% ke level Rp7.625. Penurunan ini menjadi pemicu utama penurunan indeks, mengingat sektor pertambangan memiliki bobot besar dalam perhitungan IHSG.

Faktor eksternal turut mendorong kecemasan pasar. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi dan gangguan navigasi di Teluk Persia, meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak global. Kerusakan pipa minyak Arab Saudi yang menjadi jalur alternatif pengiriman minyak tanpa melalui Selat Hormuz menambah ketegangan. Harga minyak dunia yang telah melampaui ambang batas US$100 per barel pekan lalu kembali menjadi sorotan, mengkhawatirkan lonjakan inflasi global dan dampaknya terhadap kebijakan moneter.

Di sisi lain, data inflasi konsumen AS yang dirilis setelah pasar Indonesia tutup pada Jumat pekan lalu memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve. Inflasi inti AS naik 0,3% bulanan, lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 0,2%. Berdasarkan data CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan 15–16 September 2026 mencapai 87,3%. Kenaikan tersebut diperkirakan akan mendorong penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi AS, yang pada gilirannya menekan nilai tukar rupiah serta aset berisiko di pasar berkembang seperti saham Indonesia.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya