Senin, 14 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Waspada Modus Penipuan Liburan Berbasis AI

Ancaman penipuan saat berlibur kini semakin canggih, termasuk melalui situs palsu berbasis kecerdasan buatan yang sulit dibedakan dari asli.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 14 September 2026, 11.48 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
Waspada Modus Penipuan Liburan Berbasis AI📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kecanggihan teknologi kini menjadi senjata bagi pelaku penipuan yang menyasar wisatawan, terutama melalui modus yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menyamar sebagai pihak resmi seperti hotel atau maskapai. Penipuan semacam ini tidak lagi terlihat janggal, bahkan sering kali menyerupai komunikasi resmi yang biasa diterima, sehingga sulit dibedakan dari yang asli. Menurut eksekutif dari platform manajemen perjalanan, perkembangan teknologi membuat penipuan semakin sulit terdeteksi, bahkan mengancam keamanan data dan keuangan pelancong secara langsung.

Laporan dari Federal Trade Commission (FTC) menunjukkan bahwa warga Amerika Serikat mengalami kerugian mencapai 3,5 miliar dolar AS akibat penipuan tahun lalu, sebagian besar melalui pesan teks, email, telepon, media sosial, dan pencarian daring. Hampir satu dari tiga laporan menunjukkan adanya penyamaran oleh pelaku yang mengaku sebagai pihak terkait perjalanan. Pakar keamanan siber dari Norton, Iskander Sanchez-Rola, menekankan bahwa ancaman terbesar bukanlah pesan yang jelas mencurigakan, melainkan yang terasa seperti informasi yang sah dan diharapkan.

Salah satu modus yang marak adalah pembajakan reservasi hotel. Pelaku mengirim pesan yang menyatakan terjadi masalah pembayaran atau konfirmasi gagal, lalu meminta tindakan segera melalui tautan yang disertakan. Kunci bahayanya adalah penipu mampu mengakses data asli seperti tanggal menginap dan harga karena telah membobol sistem karyawan hotel melalui phishing. Dengan informasi yang akurat, pesan tersebut terlihat valid dan memperbesar risiko korban menyerah pada permintaan pembayaran tambahan.

Modus lain yang patut diwaspadai adalah pemberitahuan palsu tentang pembatalan atau penundaan penerbangan. Pelaku mengirim pesan mendesak yang menyebut penerbangan dibatalkan, lalu menawarkan layanan pembaruan tiket dengan biaya tambahan. Karena kondisi tersebut menciptakan tekanan emosional, korban sering kali langsung menyetujui tanpa verifikasi. Solusinya, selalu periksa status penerbangan melalui aplikasi atau situs resmi maskapai, dan hindari mengklik tautan dari pesan mencurigakan. Juga, jangan membagikan dokumen perjalanan, termasuk foto tiket atau kode QR, di media sosial, karena data tersebut bisa dieksploitasi untuk kejahatan lebih lanjut.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya