Senin, 14 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Menguat Awal Pekan, Tekanan Global Masih Menghantui

Rupiah dibuka menguat ke Rp17.560 per dolar AS, dipengaruhi sentimen eksternal dan kenaikan harga minyak global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 14 September 2026, 11.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Menguat Awal Pekan, Tekanan Global Masih Menghantui📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah pada awal perdagangan Senin (14/9/2026) menunjukkan penguatan signifikan, bergerak ke level Rp17.560 per dolar AS, atau menguat 0,14% dibandingkan penutupan pekan sebelumnya. Penguatan ini menjadi pemulihan setelah rupiah sempat melemah 0,31% pada Jumat (11/9/2026), yang menutup perdagangan di angka Rp17.585/US$. Pergerakan ini mencerminkan respons pasar terhadap dinamika ekonomi global yang kian kompleks.

Sentimen eksternal menjadi kunci pergerakan mata uang lokal, terutama menyusul meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Serangan terhadap fasilitas di Arab Saudi dan kapal-kapal di Teluk memperburuk kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebesar 2,8% dalam perdagangan Asia pagi ini, setelah sebelumnya mengalami koreksi 2,37% pada akhir pekan lalu.

Kenaikan harga minyak turut memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve. Data inflasi konsumen AS yang dirilis Jumat lalu menunjukkan kenaikan 0,4% bulanan dan 3,4% tahunan pada Agustus, dengan inflasi inti mencatat kenaikan terbesar sejak April. Akibatnya, peluang kenaikan suku bunga AS naik dari 72% menjadi 87% dalam sepekan, yang pada gilirannya meningkatkan daya tarik dolar AS sebagai aset aman.

Indonesia terus mengakselerasi upaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi internasional, khususnya melalui kerja sama BRICS. Dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral BRICS di Mumbai, 9–10 September 2026, Indonesia menekankan pentingnya penguatan transaksi mata uang lokal dan konektivitas pembayaran lintas negara. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa kolaborasi ini ditujukan untuk membangun ketahanan bersama, dengan mempertimbangkan kebutuhan dan tahapan pembangunan masing-masing negara anggota.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya