Senin, 14 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

50.891 Kasus ISPA Akibat Asap Karhutla di Juli-Agustus 2026

Kemenkes melaporkan 50.891 kasus infeksi saluran pernapasan akut akibat asap karhutla pada Juli dan Agustus 2026, menyebar di 7 provinsi dan 63 kabupaten/kota.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 22.51 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
50.891 Kasus ISPA Akibat Asap Karhutla di Juli-Agustus 2026📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kementerian Kesehatan mencatat lonjakan signifikan dalam jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama periode Juli hingga Agustus 2026, dengan total 50.891 kasus yang tercatat. Peningkatan ini dikaitkan langsung dengan penyebaran asap dari kebakaran hutan dan lahan yang meluas di sejumlah wilayah, memicu dampak kesehatan di berbagai daerah, bahkan di luar lokasi kebakaran utama. Data ini disampaikan dalam konferensi pers daring oleh Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit, Andi Saguni, yang menekankan bahwa asap tidak hanya berdampak di lokasi kejadian, tetapi juga menyebar ke wilayah jauh melalui aliran angin.

Dari total kasus tersebut, 38.291 di antaranya terjadi pada individu berusia lebih dari lima tahun, sementara 12.600 kasus terjadi pada anak-anak usia 0 hingga 5 tahun, yang menjadi kelompok rentan terhadap paparan udara tercemar. Pada hari terakhir Agustus 2026, sebanyak 451 kasus ISPA dilaporkan dalam satu hari, menunjukkan tren peningkatan yang cukup tinggi dalam kurun waktu singkat. Kejadian ini bukan hanya terjadi di wilayah dengan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) tinggi, tetapi juga menyebar ke daerah yang tidak mengalami kebakaran secara langsung.

Salah satu contoh yang menunjukkan penyebaran asap secara lintas wilayah adalah Kalimantan Utara, yang meski tidak memiliki kejadian karhutla secara signifikan, tetap mencatat kenaikan kasus ISPA. Hal ini dikarenakan arus angin yang membawa asap dari wilayah tetangga, seperti Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, ke wilayah tersebut. Fenomena ini menegaskan bahwa dampak karhutla tidak terbatas pada lokasi kebakaran, melainkan menyebar secara geografis dan memengaruhi kesehatan masyarakat secara luas.

Untuk menangani krisis kesehatan ini, Kemenkes telah menerapkan pendekatan promotif, preventif, dan persiapan layanan kesehatan di daerah terdampak. Upaya tersebut meliputi pemantauan lapangan secara intensif, distribusi masker kepada masyarakat, serta memastikan ketersediaan obat-obatan esensial seperti obat asma dan oksigen di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun rujukan. Pemeriksaan terhadap kesiapan sarana dan prasarana kesehatan dilakukan secara rutin guna menjamin respons cepat dan efektif terhadap lonjakan kasus.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Direksi dan Komisaris MKNT Mundur Serentak
Nasional

Direksi dan Komisaris MKNT Mundur Serentak

Empat pejabat utama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, termasuk dua komisaris dan dua direksi, mengundurkan diri secara bersamaan, menyusul kondisi pasar saham perusahaan yang stagnan di level Rp1.

14 September 2026

Berita Lainnya