Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Aksi Massal di Tirana Tuntut Mundurnya Perdana Menteri

Demonstrasi kelima hari berlangsung ricuh di ibu kota Albania, menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama akibat kritik terhadap korupsi dan ketidakmampuan menyejahterakan rakyat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 23.02 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 23x dibuka
Aksi Massal di Tirana Tuntut Mundurnya Perdana Menteri📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Aksi protes yang berlangsung di ibu kota Albania, Tirana, memasuki hari kelima dengan eskalasi kekerasan yang meningkat. Ribuan pemuda, sebagian besar mahasiswa, turun ke jalan menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama, menilai kepemimpinannya gagal menangani isu korupsi sistemik dan minimnya peluang kerja bagi generasi muda. Aksi yang awalnya berjalan damai berubah menjadi bentrokan saat sekelompok demonstran bertopeng melemparkan batu ke arah pasukan keamanan.

Reaksi polisi pun cepat, dengan penggunaan granat kejut, gas air mata, dan meriam air untuk membubarkan kerumunan. Beberapa pengunjuk rasa menggunakan payung sebagai alat perlindungan dari semprotan air. Situasi memburuk ketika massa mulai merusak fasilitas publik, termasuk pecahnya kaca jendela dan pembakaran gedung pemerintah di sekitar kawasan kementerian. Aksi kekerasan tersebut menandai penyebaran gelombang protes dari kota ke kota di seluruh wilayah Albania.

Data dari kepolisian menyebutkan sebanyak 500 orang telah ditahan selama aksi unjuk rasa, dengan 330 di antaranya sudah dibebaskan. Sementara itu, sekitar 120 petugas keamanan dan 45 demonstran mengalami luka-luka, meski jumlah cedera di pihak pengunjuk rasa diperkirakan jauh lebih tinggi karena tidak semua korban dilaporkan secara resmi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran atas keberlanjutan stabilitas sosial dan keamanan nasional.

Aksi ini tidak hanya mencerminkan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan pemerintah saat ini, tetapi juga refleksi dari krisis kepercayaan publik terhadap institusi negara. Mahasiswa dan aktivis menekankan bahwa tuntutan pengunduran diri Rama bukan sekadar permintaan emosional, melainkan bentuk desakan terhadap reformasi sistemik yang mendesak. Mereka menegaskan bahwa perubahan hanya akan terjadi jika ada keberanian politik untuk menggantikan pemimpin yang dianggap gagal menangani persoalan mendasar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya