Aksi Massal di Tirana Tuntut Mundurnya Perdana Menteri
Demonstrasi kelima hari berlangsung ricuh di ibu kota Albania, menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama akibat kritik terhadap korupsi dan ketidakmampuan menyejahterakan rakyat.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 23.02 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 23x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Aksi protes yang berlangsung di ibu kota Albania, Tirana, memasuki hari kelima dengan eskalasi kekerasan yang meningkat. Ribuan pemuda, sebagian besar mahasiswa, turun ke jalan menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama, menilai kepemimpinannya gagal menangani isu korupsi sistemik dan minimnya peluang kerja bagi generasi muda. Aksi yang awalnya berjalan damai berubah menjadi bentrokan saat sekelompok demonstran bertopeng melemparkan batu ke arah pasukan keamanan.
Reaksi polisi pun cepat, dengan penggunaan granat kejut, gas air mata, dan meriam air untuk membubarkan kerumunan. Beberapa pengunjuk rasa menggunakan payung sebagai alat perlindungan dari semprotan air. Situasi memburuk ketika massa mulai merusak fasilitas publik, termasuk pecahnya kaca jendela dan pembakaran gedung pemerintah di sekitar kawasan kementerian. Aksi kekerasan tersebut menandai penyebaran gelombang protes dari kota ke kota di seluruh wilayah Albania.
Data dari kepolisian menyebutkan sebanyak 500 orang telah ditahan selama aksi unjuk rasa, dengan 330 di antaranya sudah dibebaskan. Sementara itu, sekitar 120 petugas keamanan dan 45 demonstran mengalami luka-luka, meski jumlah cedera di pihak pengunjuk rasa diperkirakan jauh lebih tinggi karena tidak semua korban dilaporkan secara resmi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran atas keberlanjutan stabilitas sosial dan keamanan nasional.
Aksi ini tidak hanya mencerminkan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan pemerintah saat ini, tetapi juga refleksi dari krisis kepercayaan publik terhadap institusi negara. Mahasiswa dan aktivis menekankan bahwa tuntutan pengunduran diri Rama bukan sekadar permintaan emosional, melainkan bentuk desakan terhadap reformasi sistemik yang mendesak. Mereka menegaskan bahwa perubahan hanya akan terjadi jika ada keberanian politik untuk menggantikan pemimpin yang dianggap gagal menangani persoalan mendasar.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Hakim Batalkan Vonis Kartel Bunga, AFPI Soroti Kepatuhan Regulator
Putusan pengadilan membatalkan dakwaan kartel bunga terhadap platform pinjaman daring, dengan menilai kepatuhan terhadap arahan OJK sebagai dasar operasional yang sah.
24 Oktober 2026

Vila Eks Hitler di Alpen Terbakar, Satu Tersangka Ditahan
Sebuah bangunan bersejarah milik Adolf Hitler di pegunungan Alpen terbakar, dengan satu orang ditangkap dan penyelidikan masih berlangsung.
24 Oktober 2026

Unjuk Rasa Massal Guncang Prancis, 135 Orang Ditangkap
Aksi protes besar-besaran di berbagai kota Prancis menewaskan 135 orang ditangkap, menyusul kemarahan sosial terhadap kebijakan pemerintah dan aksi kongres partai sayap kanan.
24 Oktober 2026

Pimpinan CTIF di Singapura Tekankan Kolaborasi Intelijen Anti-Terorisme
Mayjen TNI Rio Firdianto memimpin rapat CTIF Council di Singapura, perkuat sinergi intelijen sembilan negara hadapi ancaman terorisme sekaligus peringati lima tahun berdirinya fasilitas kolaborasi tersebut.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

D-8 Dorong Perdamaian Melalui Diplomasi dan Kolaborasi Ekonomi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

Madrasah Harus Jadi Ruang Belajar Inklusif dan Aman Digital
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

PLTS Terapung di Waduk Tembesi Capai 74 Persen Progres
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

OJK Sultra Dorong Inklusi Keuangan Lewat BIK 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

Gubernur Kalteng Tanam Pohon di Lokasi Karhutla Tumbang Nusa
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA

Menteri Tinjau Langsung BSPS di Jakarta Barat
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA
Sulut Juara Umum Kejurnas Pacuan Kuda 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.23 WITA

7 Kebiasaan Sederhana untuk Hidup Lebih Bahagia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.21 WITA

