Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Aksi Massal Ricuh di Prancis, Rakyat Desak Perubahan Ekonomi

Demonstrasi besar-besaran melanda Paris dan kota-kota utama Prancis, dipicu tekanan inflasi dan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah menjelang pemilu presiden 2027.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 09.06 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 24x dibuka
Aksi Massal Ricuh di Prancis, Rakyat Desak Perubahan Ekonomi📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Aksi protes berkecamuk di sejumlah kota Prancis, termasuk Paris, Lyon, Marseille, dan Lille, pada Sabtu (17/10), menyusul gelombang kemarahan rakyat terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok. Massa yang mengenakan masker dan membawa spanduk menyerukan tuntutan ekonomi, sekaligus menyerang fasilitas umum dan instansi pemerintah. Di Lyon, kantor pariwisata dibakar, sementara di Marseille, demonstran merusak patung dan menyerbu balai kota sebelum ditebas oleh pasukan antihuru-hara.

Di ibu kota, ratusan ribu orang turun ke jalan, terutama di wilayah timur dan utara, dengan meneriakkan desakan kepada Presiden Emmanuel Macron untuk mundur. Kaca stasiun televisi CNews dan Europe 1 rusak, sementara puluhan kendaraan terparkir dibakar. Polisi mengamankan lebih dari 130 orang dalam kerusuhan tersebut. Aksi ini merupakan bagian dari gerakan bertajuk "kuning dan pemuda", yang diprakarsai oleh kelompok Rompi Kuning, kelompok yang sebelumnya aktif delapan tahun lalu menentang kenaikan pajak bahan bakar.

Kebanyakan peserta protes menyampaikan kekecewaan terhadap inflasi yang melonjak di atas 3 persen, didorong oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pelajar SMA bernama Kamil Alahyan (18) menegaskan aksi ini adalah bentuk perlawanan terhadap sistem yang dianggap tidak adil, menyoroti korupsi politisi dan ketimpangan ekonomi yang melebar selama dekade terakhir. Di sisi lain, sejumlah tokoh politik memanfaatkan momentum ini, dengan Marine Le Pen menyalahkan kelompok ekstremis atas kerusuhan, sementara Jean-Luc Mélenchon menekankan mayoritas aksi tetap berlangsung damai dan menyoroti bias media dalam melaporkan kekerasan.

Pemerintah, melalui pernyataan Jumat, menekankan pentingnya menjaga ketertiban dan menghormati properti serta warga. Survei terhadap 2.000 orang menunjukkan 45 persen warga Prancis khawatir atas biaya hidup, sementara utang publik diperkirakan melampaui 120 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahun depan. Seorang pegawai negeri dari Guéret, Franck, mengungkapkan kondisi ekonomi yang menyesakkan: "Kami tidak tahan lagi, kami tercekik."

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya