Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Transformasi Energi Indonesia Menapaki Jalur Kemandirian

Pemerintah menegaskan transformasi energi nasional telah berjalan sesuai rencana, ditandai capaian produksi minyak dan elektrifikasi tinggi, serta percepatan hilirisasi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 25 Oktober 2026, 09.30 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
Transformasi Energi Indonesia Menapaki Jalur Kemandirian📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan bahwa langkah strategis dalam transformasi energi Indonesia kini berada pada jalur yang tepat. Pernyataan ini disampaikan dalam acara penghargaan energi tahunan di Jakarta, menegaskan komitmen pemerintah terhadap kemandirian energi nasional, peningkatan nilai tambah dalam negeri, serta penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan.

Capaian signifikan tercatat di sektor minyak dan gas bumi, di mana realisasi lifting minyak tahun ini mencapai 605,3 ribu barel per hari, sedikit melampaui target APBN 2025 sebesar 605 ribu barel per hari. Ini merupakan pencapaian terbaik dalam sembilan tahun terakhir, menunjukkan konsistensi dan efektivitas kebijakan dalam menopang produksi energi nasional. Pemerintah kini menargetkan peningkatan lebih lanjut hingga 610 ribu barel per hari, meski kendala teknis dan operasional masih menjadi tantangan.

Dalam sektor energi terbarukan, implementasi biodiesel B50 telah berhasil dilaksanakan sejak Juli 2026, mendorong diversifikasi konsumsi bahan bakar nabati hingga sekitar 310 ribu barel per hari. Dengan total konsumsi minyak nasional mencapai 1,6 juta barel per hari, impor minyak mentah dan produk turunannya tetap diperlukan untuk menutupi defisit. Upaya ini dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai badan usaha yang telah ditunjuk untuk menjaga ketersediaan pasokan.

Pencapaian lain yang patut dicatat adalah rasio elektrifikasi nasional yang telah mencapai 99,85 persen, dengan fokus utama pada perluasan jaringan listrik hingga ke wilayah terpencil. Hal ini memastikan bahwa setiap desa memiliki akses listrik, yang menjadi bagian dari hak dasar masyarakat atas energi yang andal dan merata. Selain itu, pemerintah terus mendorong 18 proyek prioritas hilirisasi dan ketahanan energi dengan nilai investasi mencapai Rp618 triliun, sebagian besar berlokasi di luar Pulau Jawa.

Yuliot menegaskan bahwa meski pencapaian telah signifikan, pekerjaan belum selesai. Upaya berkelanjutan diperlukan untuk mengurangi ketergantungan impor, memperbaiki iklim investasi, serta menjawab tantangan pemerataan dan keandalan pasokan energi secara nasional. Transformasi energi bukan hanya soal produksi, tetapi juga soal kesejahteraan dan keadilan akses energi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya