Jumat, 2 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Api Biru Muncul di Papandayan, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Fenomena api biru di Gunung Papandayan disebabkan pembakaran gas belerang akibat tekanan tinggi dari rekahan vulkanik, dengan suhu mencapai 600 derajat Celsius.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 15.21 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Api Biru Muncul di Papandayan, Ini Penjelasan Ilmiahnya📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Gunung Papandayan di Kabupaten Garut kembali menjadi sorotan setelah munculnya nyala api biru di area fumarol aktif, khususnya di sekitar Blok Mas dan Golden Sunrise. Kejadian ini memicu penutupan sementara jalur pendakian dan area perkemahan demi menjamin keselamatan pengunjung. Fenomena langka yang menyerupai blue fire di Kawah Ijen ini kini telah dijelaskan secara ilmiah oleh pakar geofisika dari IPB University.

Menurut Sonni Setiawan, dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, munculnya api biru dipicu oleh keluarnya gas hidrogen sulfida (H2S) dan sulfur dioksida (SO2) dari rekahan fumarol yang bersuhu antara 200 hingga 600 derajat Celsius. Gas-gas ini, ketika keluar dari bawah permukaan tanah, bereaksi dengan oksigen di atmosfer dan mengalami pembakaran spontan. Proses ini menghasilkan nyala api berwarna biru elektrik yang paling jelas terlihat pada malam hari, terutama antara pukul 02.00 hingga 05.00 WIB.

Fenomena ini bukan yang pertama kali terjadi di Papandayan. Sejak erupsi besar pada November 2002, terbentuk banyak rekahan baru di kawasan Kawah Mas, Kawah Baru, dan Nangklak. Rekahan-rekahan ini menjadi saluran utama bagi gas vulkanik yang sebelumnya tersebar luas, kini terkonsentrasi dan berada di bawah tekanan tinggi. Ketika gas H2S bercampur dengan udara, pembakaran terjadi secara alami tanpa perlu sumber api tambahan, sehingga menghasilkan nyala biru yang stabil.

Pantauan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik, ditandai dengan kenaikan aliran gas SO2, peningkatan gempa vulkanik dangkal, serta suhu fumarol yang naik dari 150 derajat Celsius menjadi 300–400 derajat Celsius. Pada suhu tersebut, gas H2S dapat terbakar secara spontan, menjadikan kemunculan api biru lebih sering teramati.

Sonni menekankan pentingnya menjaga jarak dari area fumarol. Gas vulkanik seperti SO2 sangat berbahaya bagi sistem pernapasan, sementara tanah di sekitar lubang bisa menjadi rapuh akibat suhu ekstrem. Ia menyarankan pengunjung yang ingin mengamati fenomena ini tetap memperhatikan keselamatan, menggunakan masker khusus, dan tidak mendekati area berbahaya.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya