AI Bantu Pahami Kesehatan, Tapi Waspadai Risikonya
Penggunaan AI untuk mencari informasi kesehatan meningkat, namun keakuratan dan keamanan jawaban perlu dikroscek sebelum dijadikan dasar pengambilan keputusan medis.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 15.22 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
📷 ANTARAKendari, ıNarasikita - Semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mencari tahu penyebab gejala tubuh seperti ruam, sakit kepala, atau nyeri perut. Dengan hanya mengetikkan keluhan, pengguna bisa langsung mendapatkan penjelasan dalam hitungan detik, bahkan melanjutkan percakapan untuk menyempurnakan informasi. Kemudahan ini membuat AI menjadi alat bantu yang menarik, terutama bagi mereka yang ingin memahami istilah medis atau mempersiapkan pertanyaan sebelum berkonsultasi ke dokter.
Namun, meski respons AI terasa meyakinkan dan tersusun rapi, tidak semua informasi yang disampaikan dapat dipercaya secara penuh. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui potensi AI dalam bidang kesehatan, termasuk pendidikan, dukungan tenaga medis, dan penelitian. Namun, penggunaan teknologi ini harus didasarkan pada bukti ilmiah, transparansi, dan pengawasan ketat. AI tidak boleh digunakan sebagai pengganti diagnosis atau rekomendasi medis langsung.
Studi yang menganalisis 137 penelitian tentang chatbot kesehatan menunjukkan variasi kualitas yang signifikan. Meski beberapa model seperti ChatGPT-4 menunjukkan akurasi ilmiah di atas rata-rata dalam 90 persen jawaban dan kelengkapan informasi di 84 persen, masih terdapat risiko besar terhadap kesalahan, ketidaklengkapan, atau bahkan halusinasi informasi. Penelitian lain pada 2026 menemukan bahwa hampir setengah respons dari lima chatbot populer mengandung masalah, dengan 19,6 persen dikategorikan sangat bermasalah. Bahkan, referensi yang disertakan sering kali tidak sesuai atau dibuat-buat.
Oleh karena itu, pengguna perlu memahami bahwa AI adalah alat bantu, bukan sumber otoritatif. Jawaban yang diberikan tidak harus dianggap benar tanpa verifikasi. Untuk kondisi umum atau memahami istilah medis, AI bisa membantu. Namun, untuk diagnosis, resep obat, atau keadaan darurat, konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap wajib. Pertanyaan juga harus dirancang dengan bijak, misalnya dengan meminta penjelasan tentang penyebab umum gejala, bukan langsung bertanya “Saya sakit apa?”.
Selain akurasi, privasi menjadi perhatian utama. Menyimpan data pribadi seperti hasil laboratorium atau foto dokumen medis dalam layanan AI berisiko tinggi, terutama jika kebijakan privasi tidak jelas. WHO menekankan pentingnya perlindungan data sensitif. Sebelum memasukkan informasi kesehatan, pengguna harus memahami bagaimana data tersebut digunakan dan apakah perlu dikirimkan secara eksplisit. AI bisa menjadi teman dalam mencari pemahaman, tetapi bukan pengganti keahlian profesional.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Air Mengalir dari Atap Pesawat, Penumpang Emosi
Sebuah penerbangan Emirates dari Dubai ke Istanbul mengalami kebocoran air deras dari langit-langit kabin, memicu ketidaknyamanan dan kekecewaan penumpang.
2 Oktober 2026

Wabah Ebola Bundibugyo di Kongo Tembus 8.000 Kasus
Wabah Ebola yang disebabkan virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo telah mencatat 8.067 kasus dan 3.901 kematian hingga 26 September 2026, dengan tingkat kematian di atas 48 persen.
2 Oktober 2026

Ketersediaan Bahan Baku Jadi Penghambat Ekspansi Bioetanol Nasional
Keterbatasan pasokan bahan baku domestik menjadi tantangan utama dalam implementasi bahan bakar bioetanol E10 dan E20 di Indonesia.
2 Oktober 2026

HP RAM 8GB Mulai Rp1 Jutaan, Ini Pilihan Terbaik 2026
Pada 2026, konsumen bisa menemukan smartphone dengan RAM 8GB di kisaran harga Rp1 jutaan, termasuk model dengan layar AMOLED dan penyimpanan 256GB.
2 Oktober 2026
Berita Lainnya

Indonesia Perkuat Kemitraan Strategis Lewat Fête de l’Archipel 2026
Jumat, 2 Oktober 2026, 15.32 WITA

Synchronize Fest 2026 Rilis Daftar Penampil Lengkap
Jumat, 2 Oktober 2026, 15.32 WITA

Perusahaan Pelanggar HAM Bisa Dilarang Akses Kredit
Jumat, 2 Oktober 2026, 15.32 WITA

Bendungan Jragung Siap Beroperasi Awal 2027 untuk Irigasi 4.500 Hektare
Jumat, 2 Oktober 2026, 15.31 WITA

Dana Cadangan Daerah Disetujui Rp5,6 Triliun untuk Stabilitas APBD
Jumat, 2 Oktober 2026, 15.31 WITA

AI Lanjut Berpotensi Picu Krisis Eksistensial, Perusahaan Soroti Risiko dalam IPO
Jumat, 2 Oktober 2026, 15.31 WITA

Jepang dan Filipina Gelar Latihan Gabungan Pertama Berbasis ACSA
Jumat, 2 Oktober 2026, 15.30 WITA

7 Makanan Pendorong Kesehatan Rambut dari Dalam
Jumat, 2 Oktober 2026, 15.29 WITA

