IHSG Melemah 1,02%, Tekanan Asing dan Perubahan Regulasi Picu Aksi Jual
Indeks harga saham gabungan turun 1,02% ke level 6.009,50 akibat aksi jual asing dan kekhawatiran terhadap perubahan regulasi pasar, sementara emiten seperti GEMS dan BBRM menyampaikan target produksi dan ekspansi kapasitas.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 12.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Kamis (1/10), menutup sesi di level 6.009,50 setelah melemah 1,02%. Gerakan penurunan ini dipicu oleh aksi jual bersih dari investor asing yang mencapai Rp482,29 miliar secara keseluruhan, termasuk Rp240,43 miliar di pasar reguler. Sebanyak sembilan dari 11 sektor mengalami tekanan, dengan sektor teknologi menjadi yang paling terdampak dengan penurunan 3,93%. Di sisi lain, sektor energi menjadi satu-satunya yang menguat, meski hanya tipis, sebesar 0,31%.
Pergerakan pasar domestik terpengaruh oleh penurunan harga saham emiten kapitalisasi besar seperti GOTO yang turun 12,50%, BBCA melemah 1,23%, dan BRMS terkoreksi 6,78%. Sementara itu, emiten yang menguat antara lain DSSA (naik 4,67%), CASA (naik 4,72%), dan VKTR (naik 4,43%). Perubahan regulasi, termasuk penghapusan batas bawah harga saham Rp50 dan peluncuran perdagangan short selling, turut menjadi fokus pasar dan menambah ketidakpastian. ETF EIDO dan MSCI Indonesia juga turun masing-masing 1,02% dan 1,28%.
Di sisi emiten, Golden Energy Mines (GEMS) menetapkan target produksi dan penjualan batu bara hingga 58 juta ton pada 2026, meningkat dari realisasi 2025 yang mencapai 54,95 juta ton—naik 8,38% dibandingkan 2024. Target ini dibuat dalam konteks kebijakan pemerintah yang menekan produksi nasional di bawah 700 juta ton, serta proyeksi perlambatan permintaan dari China dan India akibat peningkatan produksi domestik dan efisiensi energi. Pada 2025, 65% penjualan GEMS berasal dari ekspor, dengan China mendominasi 52%, India 6%, dan sisanya dari negara lain. Sementara itu, pasar domestik menyumbang 35%, dan perseroan mulai memperluas pasar alternatif seperti Filipina.
Pelayaran Nasional Bina Buana Raya (BBRM) telah menyelesaikan pembelian satu kapal Anchor Handling Tug Supply (AHTS) jenis 80T BP bernama MP Maverick dari Great Union China Limited senilai USD12,10 juta. Kapal tersebut telah diserahterimakan dan siap beroperasi. Transaksi ini didanai melalui pinjaman investasi dari Bank IBK sebesar Rp120 miliar. Harga pembelian jauh lebih rendah dibanding penilaian independen KJPP sebesar Rp230,91 miliar per 28 September 2026. Nilai transaksi setara 31,80% dari ekuitas BBRM per 31 Desember 2024, yang tercatat USD38 juta, sehingga tidak memerlukan persetujuan RUPS. Segmen kapal penunjang lepas pantai kini menyumbang 93,41% dari total pendapatan 1H26 (USD6,21 juta), naik 13,67% dibanding 1H25, sementara pendapatan segmen self-propelled barge turun 69,20% menjadi USD0,44 juta.
Berlina (BRNA) sedang menjalankan rights issue atau PMHMETD III, dengan maksimal emisi 543,95 juta saham baru dengan harga pelaksanaan Rp685 per saham, menghasilkan nilai emisi maksimal Rp372,61 miliar. Sebanyak 181,32 juta waran seri I diterbitkan secara cuma-cuma dengan rasio 3:1 dan harga pelaksanaan Rp800 per saham. Sekitar 70,95% dari nilai emisi, atau Rp264,38 miliar, akan digunakan untuk melunasi pokok utang kepada PT Dwi Satrya Utama (DSU) melalui konversi utang menjadi saham, tanpa penerimaan kas bagi perusahaan. Sisanya digunakan untuk modal kerja, termasuk pembelian bahan baku. Rasio HMETD ditetapkan 9:5, dan pemegang saham yang tidak melaksanakan hak berpotensi mengalami dilusi maksimum 35,71%. DSU, sebagai pengendali dengan kepemilikan 54,57%, akan meningkatkan kepemilikan menjadi 60,97% setelah pelaksanaan. Periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD berlangsung 14–21 Oktober 2026.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Suhu Naik, Pendapatan UMKM Menurun Drastis
Studi menunjukkan kenaikan suhu global menyebabkan penurunan pendapatan UMKM hingga 14 persen akibat menurunnya produktivitas pekerja.
2 Oktober 2026

Inflasi September 2026 Capai 3,28%, Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi
Inflasi September 2026 mencapai 3,28%, masih dalam batas target pemerintah, dengan pemerintah dan Bank Indonesia perkuat koordinasi untuk kendalikan tekanan harga.
2 Oktober 2026

Target Pajak 2027 Dijaga Lewat Disiplin Eksekusi
Kepatuhan dan konsistensi pelaksanaan strategi menjadi fondasi utama pencapaian target penerimaan pajak Rp2.593 triliun pada 2027.
2 Oktober 2026

5.581 Perusahaan Mulai Daftarkan Diri sebagai WP GloBE
Sebanyak 5.581 perusahaan multinasional di Indonesia telah mendaftarkan diri sebagai wajib pajak GloBE hingga akhir September 2026, sesuai aturan pajak minimum global 15%.
2 Oktober 2026
Berita Lainnya

Data Center Jatiluhur Dihentikan Sementara, Kajian Lingkungan Jadi Fokus
Jumat, 2 Oktober 2026, 12.06 WITA

LEGO PlayStation 1 Rilis dengan 1.911 Keping, Rayakan Era Legendaris
Jumat, 2 Oktober 2026, 12.06 WITA

Qualcomm Soroti Keterbatasan Memori Global, Bukan Chip
Jumat, 2 Oktober 2026, 12.06 WITA

13 Wilayah Diprediksi Alami Hujan Lebat Hari Ini
Jumat, 2 Oktober 2026, 12.06 WITA

Cara Mengembalikan Akses Akun Google dan Gmail
Jumat, 2 Oktober 2026, 12.05 WITA

Super El Nino Ancam Kemarau Lebih Panjang di Indonesia
Jumat, 2 Oktober 2026, 12.05 WITA

Robot Humanoid Digit 5 Siap Kerja 20 Jam Nonstop
Jumat, 2 Oktober 2026, 12.05 WITA

Serangan Drone Houthi Timpa Pembangkit Listrik Madinah
Jumat, 2 Oktober 2026, 12.05 WITA

