Jumat, 2 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Super El Nino Ancam Kemarau Lebih Panjang di Indonesia

Fenomena El Nino super kuat diproyeksikan memperpanjang musim kemarau hingga 2028, dengan ancaman panas ekstrem dan kebakaran hutan di Kalimantan dan Papua.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 12.05 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Super El Nino Ancam Kemarau Lebih Panjang di Indonesia📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Perkiraan ilmiah menunjukkan bahwa fenomena El Nino kategori sangat kuat pada periode 2026–2027 berpotensi memperpanjang durasi musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia. Peneliti Senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, mengungkapkan bahwa pola distribusi dampak El Nino kini tidak lagi mengikuti garis ekuator secara linier, melainkan menunjukkan variasi spasial yang lebih kompleks. Hal ini menuntut peningkatan kesiapsiagaan dan kolaborasi riset lintas negara guna mengantisipasi risiko yang muncul.

Dalam webinar yang diselenggarakan oleh BRIN, Erma menyampaikan bahwa perambatan gelombang El Nino telah memicu pergeseran musim kemarau yang lebih lama, sekaligus meningkatkan ancaman panas ekstrem. Berdasarkan pengukuran indeks suhu bola basah (WGBT), wilayah Kalimantan dan Papua teridentifikasi sebagai kawasan paling rentan terhadap tekanan panas tinggi, yang dapat memicu peningkatan risiko kebakaran hutan. Temuan ini menjadi perhatian serius terkait ketahanan pangan dan kesehatan lingkungan.

Analisis dari 14 model iklim NASA NEX-GDPP menunjukkan bahwa ancaman kekeringan akibat El Nino diperkirakan akan berlanjut hingga 2027–2028. Proyeksi ini menekankan perlunya pendekatan jangka panjang dalam penanganan dampak iklim, termasuk dalam sektor pertanian dan manajemen sumber daya air. Kondisi tersebut menuntut kesiapan dari pemerintah, pelaku pertanian, dan masyarakat di daerah rawan.

Data terbaru dari Scripps Institution of Oceanography menunjukkan anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik Khatulistiwa telah mencapai 3,05 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991–2020, melampaui rekor sebelumnya pada 2015. Mark Merrified menyatakan bahwa peluang El Nino super terjadi pada Oktober–Desember 2026 mencapai 75 persen, dengan kemungkinan melampaui kekuatan El Nino terbesar sejak era 1950-an. Indeks Niño 3.4 juga berada pada level yang hampir menyamai rekor 2015, hanya terpaut 0,01 derajat Celsius.

Berdasarkan analisis Zeke Hausfather dari Carbon Brief, rata-rata dari 14 model iklim memproyeksikan anomali suhu mencapai sekitar 4 derajat Celsius pada November–Desember 2026. Proyeksi ini dianggap mengejutkan oleh para ilmuwan, sebab data dari terumbu karang, pertumbuhan pohon, dan catatan sejarah tidak pernah mencatat El Nino dengan intensitas setara dalam satu milenium terakhir. Temuan ini menekankan urgensi mitigasi iklim dan pemantauan global yang lebih intensif.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya