Sabtu, 3 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Asing Lepas Saham Ritel dan BUMN, IHSG Terpuruk di Bawah 6.000

Investor asing menarik dana besar dari 10 saham utama, dominan sektor perbankan dan pertambangan, picu penurunan IHSG di bawah level psikologis 6.000 pada perdagangan Kamis.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 3 Oktober 2026, 21.05 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Asing Lepas Saham Ritel dan BUMN, IHSG Terpuruk di Bawah 6.000📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Kamis (1/10/2026), turun 1,02% ke posisi 6.009,50, bahkan sempat menyentuh level 5.900 sebagai penanda penurunan psikologis. Penurunan ini terjadi di tengah proses reshuffle kabinet yang memicu ketidakpastian pasar. Volume perdagangan mencapai 329,48 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp11,07 triliun, terjadi dalam 1,58 juta kali transaksi. Dari total saham yang diperdagangkan, 206 menguat, 450 melemah, dan 134 lainnya bergerak datar.

Aksi jual asing menjadi pendorong utama koreksi pasar, dengan nilai penjualan bersih mencapai Rp241,86 miliar secara keseluruhan. Rinciannya, sebesar Rp240,43 miliar terjadi di pasar reguler, sementara Rp1,43 miliar di pasar negosiasi dan tunai. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sepuluh emiten menjadi fokus penjualan asing, dengan dominasi sektor perbankan, pertambangan, dan teknologi.

Saham-saham yang paling banyak dilepas asing antara lain PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dengan penjualan bersih sebesar Rp68,49 miliar, disusul PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) senilai Rp68,25 miliar. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menempati posisi ketiga dengan Rp41,12 miliar, diikuti PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) Rp39,26 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) Rp38,95 miliar. Sementara itu, emiten pertambangan seperti BRMS, ISAT, AMMN, ITMG, dan CPIN juga turut mengalami penjualan bersih besar dari investor asing.

Pergerakan ini mencerminkan kecenderungan investor asing untuk mempertahankan likuiditas di tengah perubahan kebijakan pemerintah. Dengan dominasi saham perbankan dan sektor strategis dalam aksi jual, tekanan terhadap IHSG terus berlanjut. Kondisi ini menunjukkan sensitivitas pasar terhadap isu struktural dan kebijakan makroekonomi, terutama di tengah dinamika kabinet yang sedang berlangsung.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya