Rabu, 7 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Asing Tekan IHSG, BBCA dan GOTO Jadi Target Penjualan

Investor asing catat net sell Rp663,34 miliar di sesi I, dengan BBCA dan GOTO paling banyak dilepas, sementara BBRI dan TLKM jadi favorit pembelian.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 15.22 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Asing Tekan IHSG, BBCA dan GOTO Jadi Target Penjualan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan pada sesi perdagangan pertama hari ini, Rabu (7/10/2026), menutup sesi I di level 6.158,78, melemah 34,14 poin atau 0,55% dari posisi sebelumnya. Penurunan ini didorong oleh aksi jual bersih dari investor asing yang mencapai Rp663,34 miliar hingga pukul 12.00 WIB. Data dari Stockbit menunjukkan nilai pembelian asing sebesar Rp1,80 triliun, namun lebih rendah dibandingkan nilai penjualan yang mencapai Rp2,46 triliun.

Dari sejumlah emiten, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling banyak dilepas asing dengan nilai net sell Rp132,14 miliar dan volume 21,79 juta saham. Di posisi kedua, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tercatat sebagai target penjualan asing sebesar Rp96,80 miliar. Selain itu, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga mengalami penjualan bersih signifikan masing-masing Rp25,36 miliar, Rp19,77 miliar, dan Rp17,57 miliar.

Di sisi lain, sejumlah emiten justru menjadi incaran asing. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi saham dengan pembelian bersih terbesar oleh investor asing, mencapai Rp60,15 miliar dengan volume 19,21 juta saham. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menempati posisi kedua dengan pembelian bersih Rp21,51 miliar, disusul PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp15,45 miliar. Sementara itu, asing juga menambah posisi di ULTJ dan MMIX dengan nilai pembelian bersih masing-masing Rp8,41 miliar dan Rp5,31 miliar.

Sentimen pasar hari ini dipengaruhi oleh dinamika eksternal dan perkembangan kebijakan moneter global. Pelebaran defisit perdagangan AS menjadi perhatian, namun pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan lebih tinggi memberi optimisme domestik. Investor kini menantikan rilis data cadangan devisa Indonesia untuk menilai ketahanan eksternal dan stabilitas nilai tukar rupiah. Selain itu, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan September yang akan dirilis dini hari besok menjadi kunci utama, karena dapat mengungkap arah kebijakan suku bunga AS selanjutnya.

Pasar saham Asia bergerak variatif pada hari ini, dengan Nikkei 225 Jepang cenderung stagnan, Kospi Korea Selatan turun 0,57%, dan S&P/ASX 200 Australia melemah 0,13%. Pergerakan ini berbeda dari Wall Street, yang terdampak oleh perubahan imbal hasil obligasi AS. Risalah FOMC, meskipun bukan keputusan baru, diharapkan bisa memberi petunjuk tentang intensi The Fed terhadap pengetatan moneter lebih lanjut, yang berpotensi memengaruhi arus modal global dan kinerja aset berisiko seperti saham.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya