Rabu, 7 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pemerintah Pertimbangkan Moratorium Smelter Nikel Setengah Jadi

Pemerintah mengkaji moratorium pembangunan smelter nikel yang hanya menghasilkan produk setengah jadi demi menghindari jatuhnya harga global akibat oversupply.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 15.24 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 9x dibuka
Pemerintah Pertimbangkan Moratorium Smelter Nikel Setengah Jadi📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah kini menilai perlu mempertimbangkan pembatasan terhadap pengembangan fasilitas pemurnian nikel yang hanya menghasilkan produk setengah jadi. Langkah ini diambil menyusul tren penurunan harga nikel di pasar internasional, yang disebabkan oleh kelebihan pasokan global mencapai 2,5 juta ton. Dalam kondisi tersebut, produksi yang tidak sejalan dengan permintaan pasar dinilai berisiko memperparah krisis harga.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa sebagian besar smelter nikel yang beroperasi saat ini masih berada pada tingkat produksi setengah jadi, berkisar antara 50 hingga 60 persen. Ia menekankan bahwa pemerintah akan mengatur volume produksi nasional secara proporsional, bukan berdasarkan kapasitas terpasang yang tinggi, melainkan sesuai dengan dinamika permintaan global.

Tujuan utama kebijakan ini adalah menjaga stabilitas harga komoditas dan mencegah penjualan nikel dengan harga murah saat pasar sedang jenuh. Meskipun kapasitas produksi smelter secara teori besar, pemerintah akan menyesuaikan tingkat operasional riil di lapangan agar tidak melampaui kebutuhan pasar. Dengan demikian, risiko penurunan harga yang berkelanjutan dapat diminimalkan.

Pengendalian produksi juga bertujuan menjaga keberlanjutan sumber daya alam nasional. Nikel, sebagai mineral terbatas, tidak dapat diperbarui seperti hasil pertanian atau perkebunan. Bahlil menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan eksploitasi agar generasi mendatang tetap memiliki akses terhadap sumber daya strategis ini. Ia menegaskan bahwa kebijakan ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya