Belarus: BRICS dan SCO Dorong Reformasi PBB
Menteri Luar Negeri Belarusia menegaskan bahwa format kerja sama global seperti BRICS dan SCO bukan pesaing PBB, melainkan pendorong perubahan sistemik yang diperlukan.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 27 September 2026, 12.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 ANTARAKendari, ıNarasikita - Minsk menilai bahwa sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa telah kehilangan daya responsif terhadap dinamika global yang berkembang pesat. Dalam kesempatan berbicara di Debat Umum Majelis Umum PBB di New York, Menteri Luar Negeri Maxim Ryzhenkov menyoroti ketidakmampuan organisasi internasional itu menyesuaikan diri dengan realitas kekinian, termasuk munculnya inisiatif baru yang muncul di luar kerangka PBB. Ia menyebut bahwa ketidakmampuan PBB merespons tren global merupakan alasan mendasar mengapa banyak negara kini membentuk mekanisme kolaborasi alternatif.
Ryzhenkov mencontohkan munculnya inisiatif seperti Dewan Perdamaian yang diusulkan oleh mantan pemimpin AS dan proyek kerja sama internasional di bidang kecerdasan buatan yang digagas China. Menurutnya, fenomena tersebut bukan tanda kegagalan, melainkan indikasi bahwa PBB perlu melakukan reformasi mendalam agar tetap relevan. Ia menekankan bahwa munculnya forum seperti BRICS dan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai bentuk katalisator yang mendorong PBB untuk meninjau ulang struktur dan fungsinya.
Ia menegaskan bahwa Belarusia tidak melihat kerja sama regional atau multilateral baru sebagai pengganti PBB, melainkan sebagai peluang untuk memperkuat kerangka global yang lebih inklusif dan efektif. Dalam pandangan Minsk, keberadaan berbagai format kolaborasi internasional baru justru menunjukkan kebutuhan akan adaptasi, bukan penggantian. PBB harus mampu menangkap dinamika kekuatan global yang berubah, termasuk pergeseran keseimbangan politik dan ekonomi.
Untuk mengembalikan PBB pada misi awalnya, Ryzhenkov mengusulkan pendekatan sederhana namun fundamental: semua negara harus berhenti memanfaatkan organisasi tersebut untuk kepentingan politik nasional semata, dan mulai berpikir kolektif tentang masa depan planet. Menurutnya, hanya dengan mengedepankan kepentingan bersama, PBB dapat kembali menjadi pusat koordinasi global yang efektif dan legitim.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Empat Anggota OPM Serahkan Senjata, Pilih Kembali ke NKRI
Empat anggota OPM dari Papua Tengah resmi kembali ke NKRI dengan menyerahkan senjata dan mengikuti upacara reintegrasi di Puncak Jaya.
27 September 2026
Lima Pejabat Lapas Cibinong Dinonaktifkan Usai Temuan Fasilitas Mewah
Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan menonaktifkan lima pejabat lapas Cibinong pasca temuan fasilitas mewah oleh Ombudsman, termasuk ruang tamu, kamar tidur, dan peralatan rumah tangga.
27 September 2026

Tukang Sampah Terpilih Jadi Kades di Bekasi, Unggul 92 Suara
Surya, mantan tukang sampah yang memilah limbah untuk diolah jadi barang bernilai ekonomi, menang dalam Pilkades Mekarwangi Bekasi dengan selisih 92 suara dari petahana.
27 September 2026

Verifikasi 18 Koperasi Desa Merah Putih di Batam Selesai
Pemerintah Kota Batam menyelesaikan verifikasi faktual terhadap 18 koperasi desa Merah Putih sebagai syarat awal serah terima gedung dan operasional.
27 September 2026
Berita Lainnya

PRI Buton Selatan Dibawah Arfandi Siap Rebut Kursi Pemilu 2029
Minggu, 27 September 2026, 12.54 WITA

Suami Dicopot, Istri Pilih Jualan Nasi Bungkus untuk Bantu Mahasiswa
Minggu, 27 September 2026, 12.25 WITA

74 Juta Warga Usia 17 Tahun Belum Punya Rekening Bank
Minggu, 27 September 2026, 12.25 WITA

Bayan Hentikan Force Majeure Usai RKAB 2026 Disetujui ESDM
Minggu, 27 September 2026, 12.25 WITA

JL van der Velde, Otak di Balik Tether dan Kekayaan Rp680 Triliun
Minggu, 27 September 2026, 12.22 WITA

Ed Sheeran Kehilangan Lebih dari 439 Ribu Pengikut Imbas Kontroversi Macklemore
Minggu, 27 September 2026, 12.21 WITA

Pestapora 2026 Tutup dengan Kolaborasi Spektakuler
Minggu, 27 September 2026, 12.16 WITA

300 Anak Prasejahtera Menyaksikan Laga FIFA ASEAN Cup di Bandung
Minggu, 27 September 2026, 12.13 WITA

