Minggu, 27 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Suami Dicopot, Istri Pilih Jualan Nasi Bungkus untuk Bantu Mahasiswa

Setelah diberhentikan dari jabatan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad dan keluarga memilih berbagi makanan gratis dan mendirikan warung murah demi menopang rakyat di tengah krisis 1998.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 27 September 2026, 12.25 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
Suami Dicopot, Istri Pilih Jualan Nasi Bungkus untuk Bantu Mahasiswa📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Setelah mengakhiri masa jabatannya sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia pada 16 Maret 1998, Mar'ie Muhammad—yang dikenal dengan reputasi integritas tinggi—memilih tidak menikmati masa pensiun dengan gaya hidup mewah. Alih-alih, ia dan keluarganya langsung terjun ke tengah masyarakat untuk membantu mereka yang terdampak krisis moneter. Keputusan ini diambil tidak lama setelah penggantinya, Fuad Bawazier, dilantik, menandai berakhirnya era kepemimpinannya yang dimulai sejak 1993.

Dalam periode krisis yang melanda negara, Mar'ie Muhammad aktif bersama Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI) untuk menyalurkan bantuan makanan. Setiap hari, timnya menyiapkan ratusan nasi bungkus, bahkan pernah mencapai seribu porsi, demi menjangkau mahasiswa yang menggelar aksi di Senayan maupun warga kecil yang terpuruk. Sang istri, Ayu Resmiyati atau Etty Mar'ie Muhammad, turut ambil bagian dengan mewujudkan program sosial nyata melalui Yayasan Permata Sari.

Pada akhir tahun 1998, Etty mendirikan warung nasi murah di kawasan kampus Universitas Indonesia (UI) Depok dan IKIP (kini UNJ). Dengan harga hanya Rp1.000 per porsi—jauh di bawah harga pasaran yang mencapai Rp5.000—warung ini menyediakan nasi bungkus lengkap dengan lauk ayam goreng, sayur, dan air mineral. Setiap harinya, 150 bungkus disiapkan khusus untuk mahasiswa yang mengalami kesulitan ekonomi, menjadi bentuk konkret solidaritas terhadap generasi muda yang terdampak krisis.

Kegiatan kemanusiaan Mar'ie Muhammad tak hanya berhenti pada distribusi makanan. Ia terus aktif dalam berbagai gerakan sosial, termasuk mendukung Palang Merah Indonesia, kegiatan keagamaan, serta ikut menyemai gagasan pembentukan lembaga antikorupsi di Indonesia. Kiprahnya sebagai tokoh integritas dan kepedulian sosial berlanjut hingga akhir hayatnya, yang terjadi pada 11 Desember 2016. Ia meninggalkan teladan kepemimpinan yang bersih, tulus, dan selalu mengutamakan kesejahteraan rakyat kecil.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya