Selasa, 15 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

BYAN Umumkan Force Majeure Akibat Tunda Persetujuan RKAB

PT Bayan Resources mengumumkan keadaan kahar karena belum terbitnya persetujuan perubahan RKAB 2026, berdampak pada pemenuhan pasokan batu bara kepada pelanggan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 15 September 2026, 07.34 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
BYAN Umumkan Force Majeure Akibat Tunda Persetujuan RKAB📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - PT Bayan Resources Tbk (BYAN) secara resmi menginformasikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait terjadinya keadaan kahar yang memengaruhi kewajiban operasional dalam pasokan batu bara. Pengumuman tersebut tertuang dalam dokumen bernomor 461/BR-OJK/IX/2026, yang dikeluarkan pada 11 September 2026. Kejadian ini melibatkan perseroan dan tiga anak usahanya, yakni PT Tiva Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima, yang secara bersamaan memberitahukan dampak tersebut kepada para pelanggan.

Penyebab utama keadaan kahar adalah belum diterbitkannya persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026. Tanpa persetujuan ini, aktivitas produksi batu bara oleh anak perusahaan tidak dapat berjalan secara sah sesuai regulasi yang berlaku. Akibatnya, pemenuhan kewajiban berdasarkan perjanjian pasokan batu bara (Coal Supply Agreement) menjadi terhambat. Perseroan menegaskan bahwa pemberitahuan ini merupakan respons terhadap peristiwa yang tak dapat dihindari, demi menjaga transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi.

Meski demikian, BYAN menyampaikan bahwa kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak material terhadap kelangsungan operasional bisnis. Namun, pihak perusahaan berupaya meminimalkan risiko yang mungkin muncul, baik terhadap dirinya sendiri maupun anak-anak usahanya. Upaya komunikasi proaktif ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap mitra bisnis dan pemegang saham.

Pengumuman ini muncul pada tengah pergerakan pasar yang dipengaruhi isu akuisisi saham BYAN oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad, dikenal sebagai Haji Isam. Saham emiten ini turun 10,12% pada perdagangan 14 September 2026, menyentuh level Rp11.100 per saham, setelah sempat mencatat kenaikan signifikan sejak pertengahan Agustus 2026. Harga saham yang kini turun hampir 35% dari puncaknya, menunjukkan tekanan pasar terhadap isu kepemilikan saham.

Data kepemilikan saham per 31 Agustus 2026 menunjukkan Dato' Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low, bersama-sama menguasai sekitar 62,253% saham BYAN. Angka ini sangat dekat dengan angka 62% yang menjadi sorotan dalam rumor akuisisi. Jika akuisisi terjadi, nilai transaksi diperkirakan mencapai Rp358,17 triliun, berdasarkan harga saham Rp17.275 per saham pada 18 Agustus 2026, dengan jumlah saham yang dibeli mencapai sekitar 20,73 miliar lembar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya