Selasa, 15 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Canggu yang Berubah, Tetap Menyimpan Kesunyian

Perjalanan ke Canggu pada 2026 mengungkap transformasi kawasan dari desa pesisir menjadi pusat wisata global, namun tetap menyimpan ruang tenang di tengah hiruk-pikuk.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 15 September 2026, 07.48 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Canggu yang Berubah, Tetap Menyimpan Kesunyian📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada awal September 2026, Canggu—yang dulu hanya menjadi latar belakang bagi perjalanan ke destinasi utama di Bali—telah berubah menjadi ikon pariwisata yang tak bisa diabaikan. Jalan-jalan yang dulunya sepi kini padat kendaraan roda dua, berderetan kafe, restoran, dan tempat nongkrong yang menjamur di sepanjang Pantai Batu Bolong. Turis dari berbagai negara, termasuk para pekerja digital yang bekerja dari pantai, mengisi ruang publik dengan aktivitas sehari-hari yang terasa begitu modern. Namun di balik keramaian itu, alam tetap menjadi ciri khas yang tak tergantikan. Ombak yang menggulung di tepi pantai, angin laut yang menyapa, serta langit senja yang dihiasi layang-layang, tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Canggu.

Masuk ke dalam kawasan Holiday Inn Resort Bali Canggu, pengunjung langsung merasakan perbedaan ketegangan atmosfer. Di luar, kehidupan berjalan cepat. Di dalam, suasana seolah berhenti. Desain arsitektur yang mengandalkan material kayu, sentuhan seni Bali, serta elemen tema laut dan selancar menciptakan ruang yang hangat dan personal. Tidak ada kesan dingin dari bangunan modern yang baru beroperasi sejak akhir 2023. Di sini, ketenangan bukan sekadar perasaan, melainkan pengalaman yang dirancang. General Manager resort, Ankit Airon, menegaskan bahwa properti ini dibentuk dengan identitas unik yang membedakannya dari lainnya di Bali, termasuk di Nusa Dua, Baruna, Batam, dan Bintan.

Salah satu daya tarik utama adalah Roomah, restoran utama yang menawarkan konsep semi-buffet dengan menu nusantara dan internasional. Setiap hidangan dibuat dari awal di dapur, termasuk sourdough dan bahan-bahan khusus lainnya. “Chef kami memastikan setiap sajian menyajikan pengalaman kuliner yang tidak bisa dilewatkan,” ujar Airon, menekankan kualitas dan keterlibatan langsung dalam proses penyajian. Tamu yang menginap di suite dengan pemandangan Samudra Hindia dapat menikmati ketenangan dari balkon, terutama saat pagi hari. Pada pukul 04.30 WITA, langit masih gelap, suara burung dan debur ombak menjadi satu-satunya alunan yang terdengar—sebuah momen yang jauh dari kehidupan urban Jakarta.

Ketika ketenangan datang bukan dari diam, melainkan dari aktivitas, pengalaman pun berubah. Di Brawa, tak jauh dari resor, saya mengikuti kelas pembuatan perhiasan perak bersama Wayan Ino, pengrajin berpengalaman 23 tahun. Proses peleburan biji perak, penempaan, pembentukan, hingga pemolesan membuka mata bahwa setiap perhiasan kecil adalah hasil dari waktu, ketelitian, dan tangan manusia. “Dari 2005, saya menyadari bahwa produksi massal dan mesin membuat kerajinan tangan semakin terdesak,” ujarnya. Namun, satu hal yang tak bisa digantikan oleh mesin adalah sentuhan seni yang lahir dari proses manual—kesabaran yang tak terukur dalam waktu.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya