Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Ekonomi RI Tetap Stabil di Tengah Tantangan Global

Menteri Koordinator Ekonomi dan Menteri Keuangan melaporkan stabilitas ekonomi Indonesia kepada Presiden dalam rapat evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 21.01 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 97x dibuka
Ekonomi RI Tetap Stabil di Tengah Tantangan Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Presiden Republik Indonesia telah menerima laporan terkini dari tim ekonomi pemerintah mengenai kondisi perekonomian nasional menjelang akhir tahun 2026. Dalam pertemuan di Istana Negara, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyampaikan bahwa seluruh indikator makro ekonomi tetap berada dalam kendali, termasuk pertumbuhan ekonomi, inflasi, serta stabilitas sistem perbankan dan investasi. Laporan ini disampaikan sebagai bagian dari evaluasi akhir periode dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo-Gibran.

Airlangga menekankan bahwa pemerintah terus memperkuat daya tahan ekonomi melalui pendekatan terintegrasi. Peningkatan ekspor menjadi salah satu fokus utama, khususnya dari sektor manufaktur yang menjadi pilar utama pertumbuhan. Untuk mengatasi hambatan ekspor, pemerintah akan mengerahkan Satgas khusus guna menyelesaikan permasalahan logistik, regulasi, dan akses pasar. Langkah ini diharapkan mampu mendorong ekspor nasional secara signifikan di sisa tahun ini.

Menteri Keuangan turut memperkuat laporan tersebut dengan menyebutkan bahwa kinerja perekonomian tetap resilien di tengah tekanan global. Indikator seperti pertumbuhan ekonomi, pengendalian inflasi, serta defisit APBN tetap berada dalam target yang ditetapkan. Ia menegaskan bahwa kebijakan fiskal tetap berjalan secara seimbang, dengan fokus pada efisiensi anggaran tanpa mengurangi dukungan terhadap sektor penting.

Pada kuartal IV-2026, belanja negara diproyeksikan mencapai sekitar Rp1.300 triliun, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1.200 triliun. Peningkatan ini ditujukan untuk mendorong aktivitas ekonomi domestik, termasuk peningkatan layanan publik dan penyaluran bantuan sosial serta bantuan pangan. Dengan demikian, stimulus fiskal tetap menjadi alat utama dalam menjaga konsumsi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya