Jumat, 9 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Empat Musim Pertiwi Siap Wakili Indonesia di Oscar 2027

Film *Empat Musim Pertiwi* resmi menjadi wakil Indonesia di ajang Piala Oscar 2027 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik, setelah ditunjuk pada September 2026.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 9 Oktober 2026, 23.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Empat Musim Pertiwi Siap Wakili Indonesia di Oscar 2027📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Film *Empat Musim Pertiwi* yang disutradarai Kamila Andini akan tayang perdana di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026. Dibintangi Putri Marino dan Arya Saloka, serta mendapat dukungan dari para tokoh seni seperti Christine Hakim dan Hana Malasan, film ini telah dipilih sebagai perwakilan resmi Tanah Air untuk bersaing di ajang Academy Awards ke-99. Pemilihan ini menegaskan kualitas karya yang mampu menyampaikan narasi lokal dengan resonansi global.

Kisah berpusat pada Pertiwi, seorang perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah dua dekade meninggalkan tempat kelahirannya. Kehadirannya menimbulkan kegugupan dan kecanggungan, karena ia dulu pergi saat masih berusia 16 tahun. Meski orang tuanya menyambutnya, suasana rumah yang dulu menjadi tempat tumbuhnya kembali terasa asing. Kembali ke desa yang telah berubah secara sosial dan budaya, Pertiwi menyadari bahwa kehidupan di sana jauh dari ideal, penuh kontradiksi dan ketidakadilan.

Di tengah perjalanannya, Pertiwi bertemu kembali dengan Bisma, mantan kekasihnya yang kini sudah berkeluarga. Namun, ketertarikan yang muncul dari pria itu tidak mampu menggerakkan hatinya. Ia lebih memilih menyusuri kampung yang telah lama tak dikunjunginya, menemui dua tokoh penting: Kuntet, yang dipasung karena dianggap gila, dan Mak Ira, yang tinggal di warung terpencil karena ditinggalkan masyarakat karena latar belakangnya sebagai mantan pekerja seks. Keduanya menjadi simbol perjuangan kelompok yang dianggap 'berbeda' dalam struktur sosial desa.

Film ini mengangkat isu-isu sensitif seperti trauma akibat kekerasan seksual, diskriminasi terhadap kelompok marginal, serta konflik antara tradisi dan keadilan sosial. Pertiwi kemudian memutuskan untuk membangun tempat perlindungan bagi mereka yang terpinggirkan, sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan yang berakar dalam budaya lokal. Melalui narasi yang intens dan visual yang puitis, *Empat Musim Pertiwi* menyampaikan pesan tentang pemulihan, ingatan, dan keberanian untuk kembali ke akar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya