Jumat, 9 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pertiwi dalam Kehampaan dan Pemulihan

Film *Empat Musim Pertiwi* karya Kamila Andini menggambarkan perjalanan penyintas kekerasan seksual melalui narasi emosional yang mendalam, visual sinematik, dan struktur cerita yang puitis.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 9 Oktober 2026, 23.01 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Pertiwi dalam Kehampaan dan Pemulihan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kamila Andini kembali membawa audiens ke dunia batin yang kompleks lewat *Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java)*, sebuah karya yang menyentuh tema feminisme, trauma, dan pemulihan dengan pendekatan multidimensi. Film ini bukan sekadar kisah pulang kampung, melainkan refleksi atas pengalaman yang justru membawa dingin, bukan hangat—sebagaimana perjalanan Pertiwi (Putri Marino) yang kembali ke tempat asalnya, tetapi justru diselimuti kesedihan dan rasa terlupakan.

Melalui narasi yang perlahan dan penuh atmosfer, film ini memperlihatkan bagaimana memori masa lalu tidak selalu terlukis dengan indah, melainkan menggantung seperti debu di padang pasir Bromo. Setiap adegan dirancang untuk menggambarkan kehampaan batin, dengan kamera yang mengalir seperti napas, dan suara yang membisikkan ketidakpastian. Pemilihan lokasi dan pencahayaan menjadi alat utama dalam menyampaikan kondisi psikologis Pertiwi, yang tak hanya menghadapi trauma, tetapi juga sistem patriarki yang melekat dalam struktur sosial.

Putri Marino tampil memukau dalam perannya, mampu menampilkan rentang emosi yang luas—dari ketakutan, keputusasaan, hingga keteguhan—dengan cara yang tak terlalu dramatis, tetapi justru lebih nyata dan melekat. Penampilannya menjadi tulang punggung narasi, menghidupkan karakter yang tak bisa disederhanakan menjadi pahlawan atau korban semata. Setiap gerak tubuh, tatapan mata, dan diam yang dipilih terasa dipikirkan secara mendalam, memperkuat kredibilitas karakter dalam dunia fiksi yang dibangun secara metaforis.

Karya ini juga menjadi bukti konsistensi visi kreatif Kamila Andini dalam menyampaikan isu-isu sosial melalui bentuk seni yang tidak mengedepankan penjelasan langsung, melainkan imersi emosional. Meski durasi film mencapai 2 jam 17 menit, dan proses pemahaman terhadap pesan utama memerlukan waktu, setiap detik terasa bermakna. Tim produksi, termasuk desain visual, suara, dan editing, berhasil menciptakan pengalaman menonton yang tak hanya menonton, tetapi merasakan.

Film ini bukan hanya tentang balas dendam, meski adegan tersebut hadir sebagai bagian dari narasi. Lebih dari itu, ia menjadi refleksi atas batas-batas pemulihan—bagaimana seseorang bisa tetap waras di tengah dunia yang tak peduli, dan bagaimana keindahan alam Indonesia bisa menjadi latar yang kontras dengan penderitaan manusia. Dalam setiap keheningan, ada suara yang berbisik; dalam setiap langkah di pasir, ada jejak yang tak bisa dihapus.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya