BI Tahan Suku Bunga, Dorong Masuknya Modal Asing
Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan meski The Fed naikkan suku bunga, dan berhasil menarik aliran modal asing sebesar US$8 miliar melalui insentif biaya hedging dan kebijakan likuiditas makroprudensial.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 9 Oktober 2026, 23.05 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Bank Indonesia memilih tidak menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026, meski Federal Reserve Amerika Serikat memutuskan menaikkan suku bunga. Gubernur BI, Destry Damayanti, menegaskan keputusan ini didasarkan pada pertimbangan menyeluruh terhadap dampak kebijakan moneter secara keseluruhan, bukan hanya terhadap nilai tukar rupiah. Ia menekankan bahwa kenaikan suku bunga sebelumnya pada Mei-Juni 2026 sudah cukup efektif dalam menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar mata uang domestik.
Sebagai antisipasi terhadap tekanan dari kebijakan The Fed, BI telah melakukan penyesuaian kebijakan lebih awal. Dengan pendekatan forward looking, bank sentral telah memperkuat posisi kebijakan sejak awal tahun. Destry menegaskan bahwa langkah tersebut memungkinkan BI untuk tetap fleksibel dalam merespons dinamika global tanpa harus menaikkan suku bunga lebih lanjut. Fokus kini dialihkan pada kebijakan insentif yang mendorong masuknya dana asing secara langsung ke pasar keuangan dalam negeri.
Salah satu instrumen utama yang diterapkan adalah insentif biaya hedging. Pada bulan September 2026, BI meningkatkan insentif hingga 30% untuk transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan 25% untuk transaksi swap. Tujuannya adalah mendorong investor asing melakukan konversi mata uang asing ke rupiah dengan menutup risiko eksposur melalui instrumen hedging. Dengan mekanisme ini, investor yang menjual dolar di pasar spot akan menambah pasokan valuta asing di pasar domestik, sehingga mendukung stabilitas nilai tukar.
Hasilnya, pada periode tersebut tercatat aliran modal asing masuk ke Indonesia sebesar US$8 miliar. Selain itu, terjadi juga "durian runtuh" sebesar 200 juta yen, menunjukkan tingginya minat pasar terhadap instrumen keuangan Indonesia. Rupiah pun menguat ke level psikologis Rp17.500-an pada akhir September, mencerminkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi makro.
Selain insentif hedging, BI juga menerapkan Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) dengan memberikan insentif pengurangan giro wajib minimum hingga 2% bagi bank yang tidak menempatkan dana besar pada surat berharga dan tetap fokus menyalurkan kredit ke sektor riil. Kebijakan ini bertujuan memperkuat aliran dana ke ekonomi produktif sekaligus menjaga likuiditas perbankan tanpa menimbulkan risiko sistemik.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Sidang Pemakzulan Wapres Filipina Fokus pada Ketidaksesuaian Pendapatan dan Kekayaan
Sidang pemakzulan Wakil Presiden Filipina Sara Duterte kembali berlanjut dengan pemeriksaan dokumen pajak yang menyoroti selisih antara pendapatan dan kekayaan yang dilaporkan.
9 Oktober 2026

HSBC Dorong Transaksi Ritel Jelang Pelepasan Bisnis
HSBC Indonesia gelar travel fair 2026 dengan target pertumbuhan transaksi 44% lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya, sebelum serah terima bisnis ritel ke OCBC NISP.
9 Oktober 2026

Saham TRIN Anjlok Setelah Komisaris Utama Mundur
Saham TRIN turun 6,72% menyusul pengunduran diri Komisaris Utama Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, yang telah diterima perusahaan pada 7 Oktober 2026.
9 Oktober 2026

BRI Perluas Portofolio Investasi dengan Tiga Reksa Dana Baru
BRI meluncurkan tiga produk reksa dana baru bersama Eastspring Investments, menawarkan pilihan diversifikasi aset dan investasi berkelanjutan bagi nasabah.
9 Oktober 2026
Berita Lainnya

Meikarta Jadi Pilot Project Hunian Ramah Lingkungan Berbasis Energi Bersih
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.07 WITA

Antrean Mobil Listrik di SPKLU Picu Kebutuhan Infrastruktur
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.07 WITA

Koordinasi Lintas Kementerian Dorong Ekosistem Mobil Listrik Nasional
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.06 WITA

Prabowo Tinjau Progres 100 Kampung Nelayan di Hambalang
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.06 WITA

20.000 Aparat Siaga Hadapi Unjuk Rasa Besar di New Delhi
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.06 WITA

Kerusuhan di Afrika Selatan Dorong Pengungsian Massal
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.06 WITA

Shubhasish Chattoraj Hentikan Jabatan Wakil Presiden Komisaris BMHS
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.05 WITA

Global Hadapi Suku Bunga Tinggi Jangka Panjang
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.05 WITA

