Global Hadapi Suku Bunga Tinggi Jangka Panjang
Bank Indonesia bersiap menghadapi tekanan global akibat tren suku bunga tinggi dalam waktu lama, yang berdampak pada aliran modal dan stabilitas ekonomi domestik.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 9 Oktober 2026, 23.05 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Dunia kini berada dalam fase baru dengan kebijakan moneter yang menahan suku bunga tinggi lebih lama dari biasanya, sebuah kondisi yang disebut 'higher for longer'. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menekankan bahwa fenomena ini muncul sebagai respons terhadap ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi, termasuk inflasi yang belum mereda, lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah, serta sikap hawkish bank sentral negara maju.
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah dampak berantai dari kondisi global yang tidak stabil. Ketegangan geopolitik berdampak langsung pada harga minyak dunia, yang kemudian mendorong kenaikan inflasi. Di sisi lain, defisit anggaran yang melebar, seperti yang terjadi di Amerika Serikat dengan angka hampir 6%, mendorong pemerintah untuk memperbanyak penerbitan obligasi, sehingga menambah tekanan pada pasar keuangan global.
Peningkatan jumlah obligasi yang diterbitkan secara luas menyebabkan imbal hasil (yield) naik signifikan. Untuk menekan tekanan tersebut, Federal Reserve di AS terpaksa mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi, meski inflasi di negara tersebut telah melampaui target 2%—kini berada di atas 3%. Di negara maju lainnya, target inflasi sebesar 3% kini dilampaui hingga mencapai 4,6%, yang memperkuat kebutuhan untuk menjaga kebijakan moneter ketat.
Dampak dari kebijakan tersebut dirasakan oleh negara berkembang, termasuk Indonesia. Peningkatan suku bunga global dan penguatan dolar AS menciptakan tekanan terhadap aliran modal masuk. Investor asing mulai melakukan penarikan dana dari pasar keuangan negara berkembang menuju aset-aset yang dianggap lebih aman, seperti obligasi AS. Fenomena ini dikenal sebagai capital flight to quality, yang berpotensi mengganggu stabilitas nilai tukar dan pasar modal domestik.
Dengan kondisi ini, Bank Indonesia menegaskan kesiapan untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka panjang. Pemantauan terhadap tekanan inflasi, arus modal, dan kebijakan makroekonomi tetap menjadi prioritas utama. Tujuannya adalah menjaga kredibilitas kebijakan dan memastikan ekonomi tetap tahan terhadap gejolak global yang berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Sidang Pemakzulan Wapres Filipina Fokus pada Ketidaksesuaian Pendapatan dan Kekayaan
Sidang pemakzulan Wakil Presiden Filipina Sara Duterte kembali berlanjut dengan pemeriksaan dokumen pajak yang menyoroti selisih antara pendapatan dan kekayaan yang dilaporkan.
9 Oktober 2026

BI Tahan Suku Bunga, Dorong Masuknya Modal Asing
Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan meski The Fed naikkan suku bunga, dan berhasil menarik aliran modal asing sebesar US$8 miliar melalui insentif biaya hedging dan kebijakan likuiditas makroprudensial.
9 Oktober 2026

HSBC Dorong Transaksi Ritel Jelang Pelepasan Bisnis
HSBC Indonesia gelar travel fair 2026 dengan target pertumbuhan transaksi 44% lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya, sebelum serah terima bisnis ritel ke OCBC NISP.
9 Oktober 2026

Saham TRIN Anjlok Setelah Komisaris Utama Mundur
Saham TRIN turun 6,72% menyusul pengunduran diri Komisaris Utama Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, yang telah diterima perusahaan pada 7 Oktober 2026.
9 Oktober 2026
Berita Lainnya

Meikarta Jadi Pilot Project Hunian Ramah Lingkungan Berbasis Energi Bersih
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.07 WITA

Antrean Mobil Listrik di SPKLU Picu Kebutuhan Infrastruktur
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.07 WITA

Koordinasi Lintas Kementerian Dorong Ekosistem Mobil Listrik Nasional
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.06 WITA

Prabowo Tinjau Progres 100 Kampung Nelayan di Hambalang
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.06 WITA

20.000 Aparat Siaga Hadapi Unjuk Rasa Besar di New Delhi
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.06 WITA

Kerusuhan di Afrika Selatan Dorong Pengungsian Massal
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.06 WITA

BRI Perluas Portofolio Investasi dengan Tiga Reksa Dana Baru
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.05 WITA

Shubhasish Chattoraj Hentikan Jabatan Wakil Presiden Komisaris BMHS
Jumat, 9 Oktober 2026, 23.05 WITA

