Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Empat Petugas Gugur dalam Upaya Padamkan Karhutla di Bromo Tengger Semeru

Komisi IV DPR mendesak penanganan darurat karhutla setelah empat petugas tewas dan ratusan lainnya terluka, dengan 277 ribu kasus ISPA tercatat di tujuh provinsi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 16 Oktober 2026, 17.48 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 26x dibuka
Empat Petugas Gugur dalam Upaya Padamkan Karhutla di Bromo Tengger Semeru📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Ketegangan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menewaskan empat petugas pemadam di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Probolinggo, pada Kamis (15/10). Peristiwa tersebut menambah jumlah korban jiwa akibat kebakaran musim kering yang terus berulang dalam beberapa bulan terakhir. Tiga dari empat korban meninggal di lokasi, sementara satu lainnya meninggal setelah sempat dirawat akibat luka bakar parah akibat terjebak api di area Mentigen.

Korban tewas terdiri dari Sukaris (55 tahun), Wisnu Yuda Pratama (25), Sefriel Ardiansyah (19), dan Hendra Rony Wagiyanata, yang merupakan anggota Manggala Agni Pemula dari Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I. Hendra, akrab disapa Cak Panda, sempat selamat dari insiden sebelumnya di lokasi yang sama, namun kondisinya memburuk akibat cedera bakar berat. Dua korban lain masih menjalani perawatan intensif, yakni Munawi dari satuan Masyarakat Peduli Api dan Suraji, petugas keamanan hotel di sekitar lokasi kejadian.

Data dari Kementerian Kesehatan mencatat hingga 12 Oktober 2026, terdapat 277.075 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat asap karhutla di 63 kabupaten/kota dari tujuh provinsi terdampak. Dari jumlah tersebut, 62.400 kasus (22,5%) menimpa anak usia 0–5 tahun. Selain itu, tercatat 324 luka berat dan 23 luka ringan yang tersebar mayoritas di Kalimantan Tengah, menunjukkan dampak kemanusiaan yang meluas dan tidak hanya terbatas pada daerah terbakar.

Komisi IV DPR menegaskan bahwa karhutla telah melampaui batas bencana lingkungan, kini telah menyentuh kehidupan manusia secara langsung—dari kehilangan nyawa hingga kerusakan ekosistem dan kerugian sosial. Pihaknya mendesak Presiden Prabowo untuk segera mengambil langkah tegas dan menyiapkan peralatan penanggulangan yang memadai, mengingat kondisi yang memburuk setiap tahun. Mereka juga menekankan pentingnya kerja sama nasional dan internasional, seperti bantuan teknis dari negara lain, agar krisis ini tidak terus berulang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya