Fosil Buaya Purba di Mesir Ditemukan Berbeda dari Spesies Kini
Penelitian terbaru mengungkap fosil buaya dari tambang Piramida Giza merupakan spesies baru yang telah punah, diberi nama Herugavialis cairensis berdasarkan kesamaan bentuk dengan patung Sphinx.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 16 Oktober 2026, 15.25 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 48x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Temuan fosil tengkorak buaya di area tambang batu kapur dekat Piramida Giza dan Sphinx Agung mengungkap keberadaan spesies buaya yang telah punah sejak jutaan tahun lalu. Fosil tersebut ditemukan pada masa penelitian awal abad ke-20, namun baru kini berhasil diidentifikasi secara akurat melalui teknologi pencitraan modern. Hasil analisis menunjukkan bahwa fosil tersebut tidak termasuk dalam genus Tomistoma, seperti yang diperkirakan sebelumnya, melainkan merupakan spesies yang unik dan berbeda secara filogenetik.
Penggunaan teknik CT scan memungkinkan para peneliti dari Inggris, Swedia, Jerman, dan Mesir untuk memetakan struktur internal tengkorak secara detail. Temuan ini menunjukkan perbedaan morfologis yang signifikan dibandingkan Tomistoma schlegelii, spesies buaya yang masih hidup di wilayah Asia Tenggara. Berdasarkan hasil evaluasi ulang, peneliti menetapkan nama baru bagi fosil tersebut: Herugavialis cairensis, yang mengacu pada dewa langit Mesir, Heru (Horus), sebagai bentuk penghormatan terhadap simbolik lokasi penemuan.
Nama Herugavialis dipilih karena kesamaan bentuk moncong fosil yang rusak, mirip dengan bagian hidung Sphinx Agung yang hilang secara historis. Dewa Heru, yang dianggap sebagai perwujudan firaun di dunia nyata, menjadi simbol penting dalam peradaban Mesir Kuno. Penelitian ini menekankan bahwa penamaan spesies baru tidak hanya berbasis ilmiah, tetapi juga mencerminkan konteks budaya dan arkeologis dari lokasi penemuan.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Royal Society Open Science menegaskan bahwa wilayah Mediterania pernah menjadi habitat kaya akan keanekaragaman buaya, termasuk jenis gavial, selama sekitar 50 juta tahun terakhir. Krisis Salinitas Messinian, peristiwa geologis di mana Laut Mediterania mengering sekitar enam juta tahun lalu, menjadi penyebab utama kepunahan semua populasi buaya di wilayah tersebut. Penemuan fosil ini menjadi bukti arkeologis penting atas perubahan ekosistem global di masa lalu.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Tiga Tokoh Raih Penghargaan Energi Subroto 2026
Tiga tokoh dari berbagai latar belakang berhasil menyabet penghargaan dalam kategori Partisipasi Publik pada ajang Penghargaan Energi Subroto 2026 di Jakarta.
24 Oktober 2026

PLN Nusantara Power dan Eco Prima Jadi Pemenang Energi Subroto 2026
Dua perusahaan, PLN Nusantara Power dan Eco Prima Energi, meraih penghargaan Energi Subroto 2026 dalam kategori transformasi digital dan hilirisasi nilai tambah.
24 Oktober 2026

BRI Salurkan 270 Pompa Air Atasi Karhutla di Kalimantan Barat
BRI menyalurkan 270 unit mesin pompa air dan perlengkapan penunjang untuk dukung penanganan karhutla di Kalimantan Barat melalui program BRI Peduli.
24 Oktober 2026

Transmart Gelar Diskon Besar-Besaran Sehari Penuh
Transmart kembali menggelar Full Day Sale dengan potongan harga hingga 50 persen dan tambahan diskon 20 persen untuk pembayaran melalui layanan tertentu.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

LCGC Mulai Tergerus, Industri Tawarkan Solusi Hybrid
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.04 WITA

Teknologi REEV Dorong Hemat BBM 65 Km Per Liter
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.04 WITA

BYAN Buka Suara Soal Transaksi Saham ke Jhonlin Baratama
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.04 WITA

BRI Perkuat Nilai Saham Lewat Buyback Rp1 Triliun
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.04 WITA

Wall Street Picu Pelemahan Bursa Asia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.04 WITA

IHSG Melonjak, Saham BBRI dan AMMN Pimpin Penguatan Pasar
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA

IHSG Awal Perdagangan Naik 0,18% ke 5.397
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA

Rupiah Melemah Tipis di Awal Pekan, Tekanan Global Masih Menghantui
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA

